Kolom Pakar: Memperkuat Sistem Diagnostik Kesehatan

Di berbagai negara APEC ada berbagai perbedaan kemampuan diagnosis.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 01 September 2026, 15:44 WIB
Prof Tjandra Yoga Aditama mengulas laporan global, The 2026 Global Nutrition Report, sebagai acuan memperkuat tata kelola MBG.

Liputan6.com, Jakarta - Pada 31 Agustus 2026 ini saya menghadiri The APAC Diagnostics Leadership Summit yang diselenggarakan dibawah payung Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) yang didukung oleh Kementerian Kesehatan.

Diagnosis suatu penyakit dan masalah kesehatan merupakan komponen amat penting dalam ketahanan sistem kesehatan. Ini merupakan modalitas utama untuk melakukan deteksi dini, memberi petunjuk cara pengobatan yang tepat serta mendukung kegiatan surveilans.

Pada kenyataannya, di berbagai negara APEC ternyata ada berbagai perbedaan atas kemampuan diagnosis yang meliputi kematangan program, cakupan, infrastruktur dan koordinasi yang ada.

Tentu saja upaya memperkuat sistem diagnostik merupakan hal yang penting. Dalam hal ini, Indonesia dalam kerangka APEC Health Working Group mendukung proyek pembiayaan mandiri (self-funded project) berjudul "Strengthening Diagnostics Systems in APEC: Evaluating Implementation and Infrastructure Challenges".

Sebagai hasilnya maka pada APAC Diagnostics Leadership Summit 31 Agustus ini diluncurkan dua dokumen penting.

Pertama adalah “the APEC Diagnostics Landscape Assessment” yang menyajikan data situasi kini dari sistem diagnosis penyakot dan masalah kesehatan di negara-negara anggota APEC.

Dalam dokumen ini diidentifikasi kesenjangan utama yang ada dalam kaitan infrastruktur, akses, peraturan, kapasitas dan koordinasi yang ada.

Kedua diluncurkan ‘the APEC Diagnostics Policy Blueprint”, yang mentranslasikan temuan data situasi itu menjadi rekomendasi untuk memperkuat sistem diagnosis jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Rekomendasinya antara lain mencakup koordinasi kebijakan yang lebih kuat, memperbaiki aturan yang ada, memperkuat aspek finansial serta mengintegrasikan diagnosis ke strategi kesehatan secara lebih baik.

Patut dicatat juga bahwa “Blueprint” ini sejalan dengan resolusi WHO yaitu “76th World Health Assembly resolution on strengthening diagnostics capacity (WHA76.5)” serta komitmen kesehatan APEC tentang kesiapan pandemi dan ketahanan kesehatan.

*Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes dan Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya