Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua penyakit menunjukkan gejala atau keluhan khas pada tahap awal, begitu halnya dengan penyakit ginjal kronis.
“Banyak pasien merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas," tutur dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, Mutalib Abdullah.
Advertisement
Lantaran tidak menimbulkan gejala, Mutalib menyarankan bagi orang dengan faktor risiko terutama hipertensi dan diabetes untuk secara berkala memeriksakan kondisi fungsi ginjal.
Mutalib mengatakan gula darah yang terus tinggi dapat merusak sistem penyaringan ginjal, sedangkan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah di ginjal.
“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” ujar dokter yang praktik di Urology and Nephrology Clinic, Bethsaida Hospital Gading Serpong itu dalam pesan tertulis.
Pola makan tinggi garam, kurang bergerak, merokok, berat badan tidak terkontrol, serta penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan juga perlu diperhatikan. Penyakit ginjal juga dapat disebabkan batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.
Meski pada tahap awal penyakit ginjal tidak memiliki gejala, beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:
- Perubahan frekuensi atau jumlah urine
- Urine berbusa secara menetap
- Pembengkakan pada kaki
- Mudah lelah
- Mual
- Penurunan nafsu makan
- Tekanan darah yang sulit dikontrol.
Jika mengalami beberapa tanda tersebut, terutama secara menetap atau disertai faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi, sebaiknya lakukan pemeriksaan fungsi ginjal.
Apa Tujuan Pemeriksaan Fungsi Ginjal?
Pemeriksaan fungsi ginjal dilakukan untuk mengetahui kondisi ginjal sejak dini. Pasalnya, penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Dengan pemeriksaan, penurunan fungsi ginjal bisa diketahui lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisinya semakin berat.
Pemeriksaan fungsi ginjal dapat dilakukan melalui tes darah untuk melihat kadar kreatinin dan memperkirakan estimated glomerular filtration rate (eGFR). Pemeriksaan urine juga dapat dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya albumin atau protein.
“Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala,” pesan Mutalib.
Hal senada disampaikan dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong. Menurutnya, penanganan gangguan ginjal dan saluran kemih perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, hingga pemantauan kondisi pasien.
“Kami percaya bahwa penanganan penyakit ginjal dan saluran kemih membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, terkoordinasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujar wanita yang karib disapa Magi itu.