Kenalan dengan Chatbot Lisa, Asisten AI untuk Pasien Penyakit Ginjal Kronis

Waktu tenaga kesehatan terbatas sementara pasien cuci ginjal kerap memilki banyak pertanyaan dengan informasi akurat.

Diterbitkan 10 Juni 2026, 09:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti tengah mengembangkan asisten virtual berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk pasien penyakit ginjal kronis.

Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menamai asisten virtual ini Chatbot Lisa. Fungsinya, mendukung edukasi pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis.

Perekayasa PRSDI BRIN, Elvira Nurfadhilah, menjelaskan, pengembangan Chatbot Lisa dilatarbelakangi oleh tingginya jumlah pasien hemodialisis di Indonesia yang mencapai lebih dari 134 ribu orang pada 2024. Pasien dan keluarga butuh informasi kesehatan yang akurat dan mudah diakses. Sementara, tenaga kesehatan memiliki keterbatasan waktu untuk memberikan edukasi secara individual, serta maraknya kesalahan informasi kesehatan di ruang digital menjadi tantangan yang perlu diatasi.

“Chatbot Lisa dikembangkan sebagai solusi edukasi berbasis AI yang mampu memberikan informasi yang akurat, mudah diakses, dan berbasis bukti klinis bagi pasien hemodialisis. Chatbot Lisa pertama kali dikembangkan pada tahun 2021 dalam bentuk sistem berbasis aturan (rule-based system),” ujar Elvira mengutip laman BRIN. 

Seiring perkembangan teknologi AI, sistem tersebut kemudian ditingkatkan menjadi Chatbot Lisa versi 2.0 yang memanfaatkan teknologi Large Language Models (LLM) dan Retrieval-Augmented Generation (RAG). Pendekatan ini memungkinkan sistem mengambil referensi dari sumber pengetahuan yang telah tervalidasi sebelum menghasilkan jawaban bagi pengguna.

“Penggunaan teknologi RAG menjadi salah satu keunggulan utama Chatbot Lisa karena setiap jawaban yang diberikan dapat ditelusuri kembali ke sumber referensi aslinya. Dengan demikian, risiko munculnya informasi yang tidak akurat atau hallucination dari model AI dapat diminimalkan,” jelasnya.

Libatkan Tenaga Medis dan Pakar Kesehatan

Saat ini, sambung Elvira, pengembangan Chatbot Lisa dilakukan melalui kolaborasi antara PRSDI BRIN, RSUD Bakti Pajajaran Kabupaten Bogor, dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Sejumlah tenaga medis dan pakar kesehatan turut dilibatkan dalam proses pengembangan, termasuk ahli nefrologi, dokter spesialis penyakit dalam, serta peneliti kesehatan dari BRIN.

“Sepanjang 2026 tim peneliti telah mencapai sejumlah kemajuan penting, antara lain, terjalinnya kerja sama dengan RSUD Bakti Pajajaran dan RSCM, pelaksanaan FGD (focus group discussion), perolehan klirens etik penelitian, dan pengembangan perangkat lunak RAGLab v1.0 yang telah diajukan hak ciptanya.”

“Tim juga sedang menyelesaikan sebuah book chapter yang membahas evaluasi keamanan dan keandalan chatbot medis berbasis LLM,” jelas Elvira.

3 Tujuan Utama Penelitian 2026

Lebih lanjut Elvira menjelaskan, penelitian 2026 difokuskan pada tiga tujuan utama, yaitu:

  1. Mengembangkan chatbot berbasis LLM dan RAG dengan jawaban yang terverifikasi.
  2. Membangun mekanisme validasi hibrida yang melibatkan pakar klinis.
  3. Melakukan evaluasi sistem sesuai standar yang berlaku di bidang kesehatan.

“Untuk mencapai tujuan tersebut, tim kami menerapkan metodologi yang terdiri atas tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pengumpulan dan pemrosesan data dari berbagai sumber terpercaya, seperti pedoman Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK), KDIGO (Kidney Disease: Improving Global Outcomes), KDOQI (Kidney Disease Outcomes Quality Initiative), regulasi Kementerian Kesehatan, dan berbagai publikasi ilmiah terkait hemodialisis,” urainya.

Tahap kedua, sambungnya, mencakup pengembangan sistem chatbot melalui proses semantic chunking, pembuatan embedding, pengelolaan basis data vektor, hingga integrasi berbagai model LLM untuk menghasilkan jawaban yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan. Sementara itu, tahap ketiga berfokus pada validasi dan evaluasi bersama tenaga medis melalui pendekatan human-in-the-loop, sehingga kualitas jawaban chatbot dapat terus ditingkatkan.

“Selain pengembangan teknologi, kami juga menaruh perhatian pada kualitas data set yang digunakan. Sumber data harus berasal dari referensi medis yang terstandar dan divalidasi oleh para ahli. Chatbot Lisa tidak dirancang untuk menggantikan peran dokter maupun perawat, melainkan sebagai alat bantu edukasi dan pendamping pasien dalam memperoleh informasi kesehatan yang benar,” ungkapnya.

Ke depan, PRSDI BRIN menargetkan lahirnya purwarupa Chatbot Lisa versi terbaru yang akan diuji secara terbatas di rumah sakit mitra. Selain menghasilkan hak kekayaan intelektual dan publikasi ilmiah, pengembangan Chatbot Lisa diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata BRIN dalam pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk meningkatkan kualitas layanan edukasi kesehatan di Indonesia.

“Kami berharap Chatbot Lisa dapat menjadi sarana edukasi yang membantu pasien hemodialisis memperoleh informasi kesehatan yang terpercaya, mudah dipahami, dan dapat diakses kapan saja,” pungkasnya.