Liputan6.com, Jakarta - Orangtua sebaiknya tidak mengabaikan saat anak mengalami sakit perut yang semakin berat ke arah nyeri kanan bawah disertai muntah atau demam. Sebab, kombinasi gejala tersebut dapat menjadi tanda radang usus buntu pada anak.
Advertisement
“Sakit perut ini merupakan keluhan yang umum pada anak, artinya cukup sering dialami. Kita sebagai dokter anak ataupun orang tua harus hati-hati kalau sakit perut itu ada karakteristik-karakteristik yang khusus,” kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Himawan Aulia Rahman, SpA, Subsp.G.H.(K) pada seminar daring IDAI.
Aulia menjelaskan, salah satu pola klasik usus buntu atau appendicitis akut pada anak yang lebih besar, remaja, maupun orang dewasa biasanya diawali dengan berkurangnya nafsu makan, kemudian muncul sakit perut di bagian tengah, sekitar pusar atau ulu hati.
Setelah sakit perut muncul, pasien biasanya mengalami muntah. Selanjutnya, secara klasik, rasa sakit berpindah ke perut kanan bawah, sesuai dengan lokasi usus buntu.
Gejala usus buntu pada anak tidak selalu mengikuti pola klasik tersebut. Keluhannya dapat menyerupai penyakit lain, seperti infeksi saluran pencernaan atau gastroenteritis, sembelit, infeksi saluran kemih, hingga beberapa kondisi lainnya.
Maka dari itu, orangtua perlu memperhatikan perubahan gejala. Nyeri yang intensitasnya semakin berat, terutama di perut kanan bawah, serta rasa sakit yang bertambah ketika anak bergerak, berjalan atau meloncat, perlu diwaspadai.
“Muntah yang muncul setelah sakit perutnya itu ada. Itu juga harus hati-hati. Sakit perut yang disertai demam itu juga harus hati-hati,” ujar Aulia mengutip Antara.
Ia juga mengingatkan bahwa rasa sakit yang sangat kuat ketika perut disentuh atau ditekan ringan bukan sekadar anak bersikap berlebihan.
“Jadi kalau ada tanda-tanda bahaya ini, kita harus juga waspada bahwa salah satunya adalah usus buntu,” katanya.