Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyambut baik penerapan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit atau hospital-based. Menurutnya, program tersebut dapat membantu mengatasi persoalan distribusi dokter spesialis yang masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah.
Pratikno mengatakan, salah satu tantangan dalam pemenuhan dokter spesialis di Indonesia bukan hanya berkaitan dengan jumlah tenaga medis, tetapi juga distribusinya. Dokter spesialis dinilai masih banyak terkumpul di wilayah tertentu, terutama kota-kota besar.
Advertisement
Melalui skema PPDS hospital-based, kebutuhan dokter spesialis di setiap rumah sakit dapat menjadi pertimbangan dalam proses pendidikan. Dokter spesialis yang dihasilkan diharapkan dapat ditempatkan sesuai kebutuhan layanan kesehatan di masing-masing daerah.
“Pada akhirnya kita bisa merealisasikan sebuah mimpi dari pelayanan publik, yaitu customer first, citizen first, demand-driven. Kita mencetak dokter bukan didasarkan kepada kesiapan program studi atau universitas dalam membuka program studi spesialis, tetapi didasarkan kepada berapa butuh dokter spesialis apa, di rumah sakit mana,” ujar Pratikno penyerahan 54 peserta PPDS Batch IV kepada enam RSPPU di Kantor Kemenkes Jakarta pada Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, lewat program ini peserta PPDS hospital-based kemudian dipersiapkan sesuai kebutuhan layanan sehingga keberadaan dokter spesialis diharapkan lebih merata bahkan hingga pelosok Indonesia.
Menkes Budi: Jumlah Dokter Terbatas
Di kesempatan itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, PPDS hospital-based lahir dari persoalan nyata terkait masih terbatasnya jumlah dokter spesialis dan belum meratanya distribusi tenaga spesialis di Indonesia.
Menurutnya, pengembangan pendidikan spesialis tidak cukup hanya dengan menambah jumlah peserta didik, tetapi juga harus memperluas rumah sakit yang menjadi pusat pendidikan dan memastikan kualitas pendidikan sesuai standar internasional.
“Hospital-based-nya jalan karena kita harus memperbanyak sentra pendidikannya. Kita tidak punya 3.000 fakultas kedokteran, tetapi kita punya 3.200 rumah sakit. Di luar negeri pendidikan postgraduate medical education juga dilakukan di rumah sakit,” kata Budi.