Keringat Berlebih Bisa Berkaitan dengan Tiroid hingga Diabetes

Keringat berlebih bisa berkaitan dengan tiroid, diabetes hingga menopause. Kenali jenisnya.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 04 September 2026, 16:27 WIB
Keringat berlebih tidak selalu disebabkan cuaca panas atau aktivitas fisik. Kondisi ini bisa menjadi hiperhidrosis primer atau sekunder yang berkaitan dengan penyakit tertentu. (Ilustrasi Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Keringat berlebih bisa terasa mengganggu, terutama ketika muncul tanpa aktivitas berat atau paparan cuaca panas. Kondisi ini dikenal sebagai hiperhidrosis, yang terbagi menjadi dua jenis, yakni hiperhidrosis primer dan sekunder.

Keduanya sama-sama menyebabkan produksi keringat berlebih, tetapi memiliki penyebab yang berbeda. Hiperhidrosis sekunder dapat menjadi tanda adanya penyakit atau kondisi medis tertentu, sementara hiperhidrosis primer terjadi karena kelenjar keringat terlalu aktif tanpa penyakit yang mendasari.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venerologi, dan Estetika, Irwan Saputra Batubara, Sp.D.V.E, menjelaskan hiperhidrosis sekunder terjadi ketika keringat berlebih dipicu oleh kondisi medis lain.

Dalam diskusi media yang digelar RS Pondok Indah di Jakarta, Kamis (3/9/2026), Irwan menyebut beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan hiperhidrosis sekunder, di antaranya:

  • Gangguan tiroid
  • Diabetes melitus
  • Menopause
  • Kanker
  • Penggunaan obat-obatan tertentu

"Kalau sekunder itu keringat berlebih karena ada penyakit lainnya. Yang paling sering, gangguan metabolisme, tiroid, diabetes melitus atau sakit gula, menopause, dan penggunaan obat-obat tertentu," tutur Irwan.

Hiperhidrosis Primer Muncul Tanpa Penyakit Lain

Sementara itu, hiperhidrosis primer tidak disebabkan oleh penyakit atau kondisi medis lain. Kondisi ini terjadi karena kelenjar keringat bekerja terlalu aktif.

"Hiperhidrosis primer tidak ada pencetus lainnya, murni kondisi kelenjar keringatnya terlalu aktif," kata Irwan.

Hiperhidrosis primer umumnya mulai muncul sejak masa kanak-kanak hingga remaja dan dapat semakin berat ketika memasuki usia dewasa muda.

Bagian tubuh yang paling sering mengalami kondisi ini adalah ketiak, telapak tangan, dan telapak kaki.

Penyebab pastinya belum diketahui. Namun, faktor genetik atau riwayat keluarga diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hiperhidrosis primer.

Salah satu ciri khasnya adalah keringat berlebih tetap muncul meski tidak ada pemicu seperti suhu panas atau aktivitas fisik.

Menariknya, keringat biasanya berhenti ketika seseorang tertidur dan kembali muncul setelah terbangun.

"Kemudian tanda khasnya itu, dia (keringat berlebih primer) hilang pada saat kondisi tidur dan mulai muncul pada kondisi bangun, walaupun tidak ada aktivitas berat. Yang paling penting itu tidak ada kondisi medis atau penyakit lain yang menyertai," ujar Irwan.

Bukan Berarti Ada Satu Penyebab Pasti

Irwan menekankan bahwa berbagai kondisi yang berkaitan dengan hiperhidrosis tidak selalu dapat disebut sebagai penyebab langsung. Kondisi tersebut lebih tepat dipandang sebagai faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hiperhidrosis.

"Keringatnya memang banyak atau impulsnya selalu overreaktif, itu dipengaruhi faktor. Jadi bukan penyebab, tapi faktor risiko. Penyebab pastinya kita tidak diketahui, tapi ada risiko-risiko yang meningkatkan hiperhidrosis," ujarnya.

Pada hiperhidrosis sekunder, penanganan tidak langsung berfokus pada kelenjar keringat. Dokter terlebih dahulu menangani penyakit atau kondisi yang menjadi pemicunya.

"Itu kondisi hiperhidrosis sekunder. Artinya, kita obatin dulu kondisi yang menyebabkan hiperhidrosisnya. Punya sakit gula, kita obatin dulu gulanya. Ada masalah tiroid, kita turunkan dulu kondisi tiroidnya, dan sebagainya," kata Irwan.

Ada Tindakan untuk Mengurangi Keringat di Ketiak

Selain menangani penyebab yang mendasari, terdapat tindakan yang dapat membantu mengurangi keringat berlebih, salah satunya Advance Sweat Reduction.

Irwan menjelaskan bahwa prosedur minimal invasif tersebut ditujukan untuk mengurangi produksi keringat di area ketiak dengan mengangkat atau menghancurkan kelenjar keringat.

Prosedur dilakukan dengan membuat sayatan kecil pada kulit. Setelah itu, alat laser-assisted liposuction dimasukkan melalui sayatan menuju lapisan tipis di bawah kulit.

Alat tersebut digunakan untuk mengikis sekaligus menyedot kelenjar keringat pada area yang ditargetkan.

Menurut Irwan, kelenjar keringat yang telah diangkat atau dihancurkan tidak dapat tumbuh kembali sehingga hasil tindakan dapat bersifat permanen pada area yang ditangani.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya