Keringat Buntet Bukan Hiperhidrosis, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Biang keringat atau miliaria ternyata berbeda dari hiperhidrosis. Ini penyebab dan cara mengatasinya.

Diterbitkan 04 September 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keringat buntet atau biang keringat merupakan masalah kulit yang cukup sering dialami bayi dan anak-anak. Kondisi yang dalam dunia medis disebut miliaria ini ditandai dengan munculnya bintil-bintil pada kulit akibat tersumbatnya muara saluran keringat.

Meski sama-sama berkaitan dengan keringat, Dokter Spesialis Dermatologi, Venerologi, dan Estetika, Irwan Saputra Batubara, Sp. D.V.E, menekankan bahwa keringat buntet berbeda dengan hiperhidrosis atau kondisi keringat berlebih. Oleh sebab itu, cara mengatasinya pun tidak sama.

Apa Itu Keringat Buntet atau Miliaria?

Irwan menjelaskan bahwa miliaria terjadi ketika muara kelenjar keringat di permukaan kulit mengalami penyumbatan. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan keringat terperangkap dan memicu munculnya bintil-bintil pada kulit.

"Keringat buntet atau biang keringat itu secara medis kita bilangnya miliaria. Paling sering memang di usia bayi atau anak-anak, di mana kelenjar keringatnya itu muaranya ketutupan dengan sisa sel kulit mati, dan baju atau bedong yang terlalu ketat," ujar Irwan dalam diskusi media yang digelar RS Pondok Indah Group di Jakarta pada Kamis (3/9/2026).

Oleh sebab itu, menjaga kulit bayi tetap sejuk, kering, dan tidak terlalu tertutup menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mencegah biang keringat.

Orang Dewasa Juga Bisa Mengalami Keringat Buntet

Meski identik dengan bayi, miliaria juga dapat terjadi pada orang dewasa, terutama dalam kondisi tertentu. Pasien yang menjalani bedrest total atau dirawat di ruang ICU termasuk kelompok yang berisiko mengalami keringat buntet.

Minimnya pergerakan membuat tubuh berada dalam posisi yang sama dalam waktu lama sehingga panas dan kelembapan lebih mudah terperangkap di kulit.

"Dewasa juga bisa, terutama pasien-pasien yang bedrest total biasanya. Di rumah sakit lama, terutama pasien-pasien ICU yang sulit bergerak, sulit mobilisasi, badannya terbekap seharian, itu muncul keringat buntet," kata Irwan.

Bagaimana Cara Mengatasi Keringat Buntet?

Berbeda dengan hiperhidrosis, penanganan keringat buntet tidak membutuhkan prosedur medis seperti suntik botox atau tindakan untuk mengurangi kelenjar keringat.

Menurut Irwan, hal terpenting adalah menghilangkan sumbatan pada muara kelenjar keringat. Langkah tersebut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kulit dan segera mengganti pakaian yang basah oleh keringat.

"Kalau keringat buntet ini penanganannya agak beda. Kita cukup rilis daerah kelenjar keringatnya, daerah muaranya itu kita rilis dengan cara dibersihkan, kemudian diganti baju yang kering. Tanpa pengobatan yang spesifik, biasanya dia akan membaik dengan sendirinya," ujar Irwan.

Dengan perawatan sederhana tersebut, keringat buntet umumnya dapat membaik dengan sendirinya.

Bolehkah Langsung Mandi Setelah Berkeringat?

Salah satu anggapan yang masih banyak dipercaya adalah mandi segera setelah berolahraga atau beraktivitas saat tubuh berkeringat dapat menyebabkan jerawat punggung atau panu.

Menurut Irwan, anggapan tersebut merupakan mitos. Meski demikian, tubuh sebaiknya diberi waktu untuk kembali stabil setelah aktivitas fisik. Jika masih berkeringat deras, tunggu hingga produksi keringat mulai mereda sebelum mandi.

Saat tubuh masih aktif berkeringat, proses pengaturan suhu tubuh masih berlangsung. Setelah produksi keringat berhenti dan kondisi tubuh mulai stabil, mandi dapat dilakukan untuk membersihkan keringat dari permukaan kulit.

Yang tidak kalah penting, jangan membiarkan pakaian basah oleh keringat terlalu lama menempel di tubuh. Kondisi lembap yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kulit, termasuk infeksi jamur seperti panu.

Â