Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mendorong agar layanan gagal jantung stadium lanjut tidak hanya berpusat di Pulau Jawa. Menurut Budi pengembangan layanan dengan teknologi medis canggih tidak cukup jika hanya tersedia di satu pusat layanan kesehatan.
Saat ini kebutuhan penanganan gagal jantung di Indonesia cukup besar bila melihat data sekitar 5 juta orang dengan gagal jantung di Indonesia. Lalu angka angka kematian lebih dari 250.000 orang setiap tahun.
Advertisement
“Gagal jantung adalah pembunuh kedua di Indonesia dengan kematian setiap tahun lebih dari 250.000,” ujar Budi dalam Global Heart Longevity 5.0 Summit, Sabtu (5/9/2026) secara daring.
Salah satu teknologi yang mulai dikembangkan untuk menangani pasien gagal jantung stadium lanjut dengan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD). Alat ini membantu jantung memompa darah dan dapat menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien dengan kondisi tertentu.
Pengembangan implantasi LVAD terkecil dan teringan di dunia telah dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). LVAD tersebut disumbangkan oleh HeartSpan.ai dan Borderless Healthcare Group.
Budi berharap pengalaman dan kemampuan yang dibangun di RSCM dapat dikembangkan ke pusat layanan lainnya.
“Saya berharap HeartSpan.ai dan Borderless Healthcare Group dapat mengembangkan kolaborasi ini dari RSCM ke pusat lain, terutama di luar Jawa,” kata Budi.
Di kesempatan yang sama, Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, menilai masa depan layanan gagal jantung membutuhkan model kolaborasi yang memungkinkan dokter berbagi pengetahuan tanpa dibatasi wilayah.
Menurutnya, LVAD hanyalah salah satu bagian dari transformasi layanan jantung. Pengembangan knowledge sharing cloud, AI, rehabilitasi, dan terapi regeneratif perlu diintegrasikan untuk membangun sistem perawatan yang lebih menyeluruh.
“Bukan hanya alat implan yang menjadi jembatan menuju transplantasi atau terapi definitif. Kami melihat peluang baru melalui kematangan terapi regeneratif, termasuk pengembangan sel punca,” ujar Wei.
Ia menjelaskan knowledge sharing cloud dapat mempertemukan dokter lokal dengan spesialis dari daerah maupun negara lain. Dengan dukungan teknologi, dokter di fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan sumber daya tetap dapat memperoleh akses terhadap pengetahuan dan pengalaman klinis dari pusat keunggulan.
Model tersebut, lanjutnya, tidak hanya dapat diterapkan di rumah sakit. Ke depan, jejaring pengetahuan dapat diperluas ke pusat rehabilitasi jantung, fasilitas pemulihan, hingga perawatan pasien di rumah.
“Dokter lokal dapat berbicara dengan spesialis lokal atau bahkan spesialis global, serta didukung profesional medis ketika berkonsultasi dengan pasien,” katanya.
Dokter RSCM: Pemilihan Pasien dan Waktu Jadi Kunci Pemasangan LVAD
Dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular, M. Arza Putra dari RSCM menjelaskan salah satu pelajaran penting dari pengalaman pemasangan LVAD adalah pentingnya memilih pasien pada waktu yang tepat.
“Hal yang paling penting untuk kasus pertama adalah pemilihan pasien. Waktu sangat penting,” ujar Arza.
Pasien gagal jantung yang terlambat ditangani berisiko mengalami penurunan fungsi berbagai organ sehingga peluang keberhasilan intervensi menjadi lebih kompleks. Maka dari itu, kemampuan mendeteksi dan merujuk pasien sejak lebih awal menjadi bagian penting dari ekosistem layanan.
Dalam pengembangan program LVAD, RSCM juga mendapat dukungan pengetahuan dan pelatihan dari mitra internasional. Tim multidisiplin dilibatkan mulai dari seleksi pasien, persiapan tindakan, operasi, perawatan intensif, hingga rehabilitasi.
Pengalaman tersebut kemudian diteruskan melalui pemantauan pasien setelah operasi. Tim medis dan perawat melakukan kunjungan serta pemantauan, sementara pasien juga mendapatkan rehabilitasi dan dukungan psikologis serta sosial.
Arza menilai tantangan berikutnya adalah membangun registri pasien yang lebih kuat, memperluas kemampuan rumah sakit dalam mengenali pasien gagal jantung, serta meningkatkan jejaring rujukan.
“Penyakit gagal jantung dan rehabilitasi kardiologi juga berperan penting. Kita harus mengambil teknologi dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun tim yang kuat,” katanya.
Ke depan, RSCM mendorong terbentuknya jejaring pusat layanan gagal jantung di Indonesia. Jejaring tersebut diharapkan memungkinkan pasien memperoleh penanganan yang berkesinambungan, mulai dari deteksi, terapi, rehabilitasi, hingga pemantauan jangka panjang.