Donor Jantung Terbatas, RSCM Terapkan Implantasi Alat Bantu Terkecil di Dunia

RSCM berhasil lakukan implantasi LVAD CoreHeart 6, alat bantu jantung berukuran paling kecil di dunia untuk pasien gagal jantung.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo atau RSCM telah melakukan implantasi alat bantu jantung Left Ventricular Assist Device (LVAD) CoreHeart 6, perangkat bantu jantung berukuran paling kecil di dunia.

LVAD memiliki fungsi sebagai perangkat untuk membantu fungsi jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Teknologi ini dapat menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut, terutama ketika fungsi pompa jantung sudah sangat menurun.

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Azhar Jaya mengatakan penggunaan LVAD dapat memberikan pilihan terapi bagi pasien gagal jantung stadium akhir yang selama ini menghadapi keterbatasan dalam mendapatkan donor jantung untuk transplantasi.

"Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus. Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," ujar Azhar di RSCM, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM Birry Karim menjelaskan keberhasilan implantasi merupakan hasil kerja tim multidisiplin yang melibatkan dokter jantung, dokter bedah jantung, dokter anestesi, dokter intensif, perawat, hingga tenaga kesehatan lainnya.

Menurutnya, program penanganan gagal jantung lanjut di RSCM telah dirintis sejak 2017 melalui pembentukan layanan khusus gagal jantung, yang kemudian berkembang menjadi sistem pelayanan terpadu.

"Keberhasilan ini bukan hasil kerja satu orang, tetapi hasil kolaborasi seluruh tim. Penanganan gagal jantung lanjut memang harus dilakukan secara multidisiplin," ujar Birry.

 

Kondisi Pasien Pertama yang Jalani LVAD CoreHeart 6

Birry mengungkapkan pasien pertama yang menjalani implantasi menunjukkan perkembangan yang baik. 

Dalam waktu sekitar 24 jam setelah operasi, pasien sudah dapat dilepas dari ventilator, mulai menjalani latihan mobilisasi, serta menunjukkan perbaikan berbagai parameter klinis.

Tim medis masih melakukan pemantauan ketat terhadap risiko infeksi, perdarahan, dan gangguan fungsi organ yang lazim terjadi pada fase pascaoperasi.

"Sejauh ini kondisi pasien terus membaik. Begitu pasien berhasil melewati fase kritis dan dapat dilepas dari ventilator, kami merasa sangat lega. Ini menjadi milestone penting bagi pengembangan layanan gagal jantung di Indonesia," kata Birry.

 

Bukti Indonesia Bisa Adaptif Terhadap Teknologi Medis

Azhar mengatakan keberhasilan tim RSCM melakukan pemasangan LVAD CoreHeart 6 jadi bukti SDM Indonesia menguasai teknologi medis berkelas dunia. Sehingga makin banyak nyawa masyarakat yang diselamatkan.  

"Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan," pesan pria yang karib disapa Aco ini. 

Azhar menegaskan Kementerian Kesehatan ingin rumah sakit nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, tetapi juga menjadi pemain utama dalam pengembangannya. Karena itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi internasional agar transfer teknologi, peningkatan kompetensi dokter, dan inovasi layanan dapat berlangsung lebih cepat.

"Kami tidak ingin rumah sakit nasional hanya menjadi penonton. Kami ingin menjadi pemain. Indonesia harus menjadi kebanggaan di bidang layanan kesehatan," ujarnya.

Kemampuan RSCM dalam memberikan layanan implantasi LVAD pun menurutnya bisa menarik pasien dari negara lain, termasuk Singapura dan Malaysia berobat ke Indonesia.

"Kalau teknologinya sudah terbukti berhasil di Indonesia, mengapa pasien dari negara lain tidak datang ke sini? Ini menjadi peluang besar bagi layanan kesehatan nasional," katanya. 

Di kesempatan yang sama, Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Wei Siang Yu mengatakan kolaborasi dengan RSCM tidak hanya menghadirkan perangkat medis, tetapi juga mencakup pelatihan dokter, transfer pengetahuan, serta pengembangan sistem layanan berbasis kecerdasan buatan (AI).

"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, tetapi membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," ujar Siang Yu.