Demam Mulai Turun Bukan Berarti Aman, Waspadai Fase DBD

DBD bisa memburuk saat demam mulai turun. Kenali tanda bahaya dan cara mencegahnya sejak dini.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 07 September 2026, 17:44 WIB
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia. Meski angka kematian berhasil ditekan, penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini masih dapat menyerang sepanjang tahun. (Credits: unsplash.com by Kelly Sikkema)

Liputan6.com, Jakarta - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini tidak lagi hanya muncul saat musim hujan, tapi dapat menyerang sepanjang tahun.

Kementerian Kesehatan RI menyebut tingkat penyebaran dengue di Indonesia termasuk yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara. Meski kemajuan pengobatan telah berhasil menekan angka kematian akibat DBD secara signifikan, penyakit ini belum sepenuhnya hilang.

Hampir enam dekade setelah pertama kali tercatat di Indonesia, DBD masih menimbulkan beban besar bagi pasien, keluarga, tenaga kesehatan, hingga perekonomian.

DBD Pertama Kali Tercatat pada 1968

Dalam keterangan resmi yang diterima Kesehatan Liputan6.com pada Senin, 7 September 2026, disebutkan bahwa kasus DBD pertama kali tercatat di Indonesia pada 1968. Saat itu, Kejadian Luar Biasa (KLB) terjadi di Jakarta dan Surabaya. Tercatat 58 kasus dengan 24 kematian.

Angka case fatality rate (CFR) atau tingkat kematian ketika itu mencapai 41,3 persen. Seiring perkembangan tata laksana medis dan sistem pengendalian penyakit, angka kematian akibat DBD berhasil ditekan hingga di bawah 1 persen.

Namun, keberhasilan menurunkan angka kematian tersebut bukan berarti ancaman dengue telah berakhir.

Lebih dari 2 Juta Kasus Rawat Inap

Beban DBD masih terlihat jelas hingga saat ini. Penyakit tersebut juga tidak lagi dapat dianggap sebagai penyakit musiman yang hanya muncul ketika hujan turun.

Pada 2024, berdasarkan studi Burden of Disease oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), diperkirakan lebih dari 2 juta kasus rawat inap akibat DBD terjadi di Indonesia.

Dampaknya tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Total beban finansial akibat DBD diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun.

Beban tersebut mencakup biaya perawatan, kehilangan waktu produktif, hingga tekanan psikologis yang dirasakan keluarga ketika salah satu anggotanya harus menjalani perawatan.

Tingginya kasus juga dapat menambah beban tenaga kesehatan dan instalasi gawat darurat (IGD) di rumah sakit.

Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Gia Pratama Putra, mengatakan salah satu tantangan dalam menangani DBD adalah mengenali kondisi pasien sejak awal.

"Pada fase awal, DBD dapat sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya. Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat," ujar Gia.

Jangan Tertipu Saat Demam Mulai Turun

Fase ketika demam mulai mereda justru perlu mendapat perhatian. Keluarga tidak boleh langsung menganggap pasien telah pulih hanya karena suhu tubuhnya turun.

Gia mengingatkan sejumlah tanda bahaya yang perlu segera mendapatkan perhatian medis, antara lain nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, hingga penurunan kesadaran.

"Karena itu, keluarga perlu memantau kondisi pasien dengan cermat dan segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya, seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran," katanya.

Menurut Gia, masyarakat juga perlu mengubah pandangan terhadap DBD yang selama ini sudah terlalu familiar.

"Karena DBD sudah begitu lama dikenal oleh masyarakat, jangan sampai justru kita menganggapnya sebagai bagian yang biasa dari kehidupan kita sehari-hari," tambahnya.

Pencegahan DBD Mulai Diperkuat

Memasuki 2026, pemerintah memperkuat strategi pengendalian dengue secara lebih terintegrasi.

Kementerian Kesehatan bersama akademisi, organisasi profesi, lembaga internasional, dan masyarakat sipil menyusun Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026-2029.

Langkah tersebut dilakukan dengan mengkaji perkembangan dengue sekaligus mengidentifikasi kesenjangan dalam pengendalian penyakit. Tujuannya, agar pencegahan, deteksi, dan penanganan DBD dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

Ada beberapa pendekatan yang menjadi bagian dari strategi tersebut.

1. Pengendalian nyamuk dan lingkungan

Masyarakat tetap perlu menjalankan gerakan 3M Plus secara konsisten, baik di rumah maupun lingkungan tempat beraktivitas. Upaya ini juga perlu disertai dengan mengurangi paparan gigitan nyamuk dan menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

"Pencegahan tetap menjadi perlindungan pertama. Setiap keluarga dapat berperan dengan menjalankan 3M Plus secara konsisten, mengurangi paparan gigitan nyamuk, memperhatikan lingkungan di rumah dan tempat beraktivitas, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan lainnya, termasuk vaksinasi dengue," kata Gia.

2. Memanfaatkan inovasi medis

Pengendalian dengue kini juga didukung oleh inovasi seperti teknologi Wolbachia dan vaksinasi dengue.

3. Memperkuat surveilans dan edukasi

Sistem peringatan dini perlu diperkuat agar peningkatan kasus dapat diketahui lebih cepat. Di saat yang sama, masyarakat dan keluarga perlu dilibatkan secara aktif melalui edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

 

Target Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia. Meski angka kematian berhasil ditekan, penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini masih dapat menyerang sepanjang tahun. (unsplash.com/@little_klein)

Berbagai strategi tersebut bermuara pada satu target nasional, yaitu Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030. Setelah 58 tahun menghadapi dengue, Indonesia memiliki pemahaman medis dan pilihan intervensi yang jauh lebih lengkap dibandingkan saat penyakit ini pertama kali ditemukan.

Namun, target tersebut tidak hanya bergantung pada pemerintah dan tenaga kesehatan. Keluarga memiliki peran penting, mulai dari mencegah perkembangbiakan nyamuk, mengenali gejala, memantau kondisi anggota keluarga yang mengalami demam, hingga segera mencari pertolongan ketika muncul tanda bahaya.

DBD mungkin sudah menjadi penyakit yang sangat dikenal masyarakat. Namun, justru karena terlalu familiar, kewaspadaan terhadap penyakit ini tidak boleh menurun.

"DBD tidak hanya berdampak pada pasien. Ketika satu orang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan dampaknya, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial," ujar Country Head Malaysia & Indonesia, Takeda, Simon Gallagher.

"Karena itu, perjalanan menuju nol kematian akibat dengue perlu menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari upaya pencegahan," lanjutnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya