Anak Asma Terpapar Abu Vulkanik, Orangtua Perlu Siapkan Ini

Ada dua hal yang bisa orangtua upayakan bila punya anak dengan riwayat asma di tengah kondisi paparan abu vulkanik Anak Krakatau.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 07 September 2026, 19:00 WIB
Ilustrasi orangtua perlu menyiapkan obat asma dan obat darurat yang biasa digunakan bila mendapati ada serangan akut (sumber: unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K) mengungkapkan anak dengan riwayat asma bila terpapar abu vulkanik bisa memicu serangan akut.

"Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas Wahyuni.

Selain itu, anak dengan penyakit jantung bawaan dan bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal juga masuk dalam kelompok berisiko tinggi.

Maka dari itu, Wahyuni mengingatkan bila anak menunjukkan masalah pernapasan bisa segera dibawa ke rumah sakit atau dokter. 

"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94%, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," kata Wahyuni.

Untuk mencegah muncul masalah kesehatan terutama pada anak asma dan yang berisiko tinggi, Wahyuni mengatakan langkah paling ideal adalah mengungsikan anak menjauh dari lokasi terdampak.

"Jika tidak memungkinkan, upaya terbaik adalah menjaga anak tetap berada di dalam rumah dengan kondisi rumah tertutup rapat untuk mencegah abu masuk," tuturnya.

Mengingat pasien asma dan alergi saluran napas rentan alami serangan akut, maka orangtua perlu menyiapkan obat rutin dan obat darurat yang biasa digunakan.

 

13 Rekomendasi IDAI Minimalisasi Dampa Abu Vulkanik Anak Krakatau

Untuk melindungi anak dari dampak paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, berikut 13 rekomendasi Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI:

  1. Mengungsikan anak menjauhi lokasi yang terkena dampak letusan (paling ideal)
  2. Tetap tinggal di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat bila kondisi udara di lingkungan buruk, yaitu lebih dari 100 pada ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara). Kondisi ini  dapat dilihat di situs pemantau kualitas udara.
  3. Jauhkan anak saat membersihkan abu.
  4. Saat membersihkan rumah, jauhkan anak.
  5. Jika tidak memungkinkan, gunakan lap atau kain basah, atau basahi lantai/ objek yang hendak dibersihkan dengan air agar debu tidak beterbangan saat dibersihkan dengan kain atau lap.
  6. Matikan alat yang menghisap udara luar masuk rumah seperti AC. Lalu, atur mode air recirculation/closed vent. Jangan nyalakan kipas angin karena justru akan meniupkan partikel debu yang sudah mengendap di permukaan furnitur atau lantai ke udara, dan akan terhirup.
  7. Gunakan masker khusus anak pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun dan pastikan terpasang dengan baik. Pastikan orangtua mengajarkan cara memakainya.
  8. Berikan pelindung mata pada anak, dapat berupa kacamata anak.
  9. Kenakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan langsung pada kulit sensitif anak.
  10. Siapkan obat-obatan rutin bila anak punya riwayat asma/alergi saluran napas.
  11. Hindarkan anak dari polusi asap tambahan di dalam rumah (asap rokok, asap dapur).
  12. Pastikan anak cukup minum untuk mencegah dehidrasi.
  13. Segera datang ke rumah sakit bila terdapat gejala sesak napas yang ditandai dengan laju napas meningkat, ada tarikan dinding dada ke dalam, dan saturasi oksigen di bawah 94% dengan oksimeter jari.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya