ASI Berkualitas Ternyata Bergantung pada 'Modal' Nutrisi Ibu

ASI menyesuaikan kebutuhan bayi, tetapi tubuh ibu bisa kehabisan 'modal' nutrisi saat menyusui.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 10 September 2026, 13:00 WIB
Dokter spesialis gizi klinik konsultan penyakit metabolik, Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, Sp.GK(K), SubSp.KM, menjelaskan pentingnya menjaga cadangan nutrisi ibu selama hamil dan menyusui. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - ASI memang diproduksi secara alami untuk memenuhi kebutuhan bayi. Namun, di balik proses tersebut, tubuh ibu juga bekerja keras menyediakan berbagai zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung produksi ASI.

Ketika asupan nutrisi ibu tidak mencukupi, tubuh dapat menggunakan cadangan gizi yang tersimpan. Situasi ini menjadi perhatian terutama jika ibu menjalani kehamilan dan menyusui dalam jarak yang terlalu dekat.

Dokter spesialis gizi klinik konsultan penyakit metabolik, Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, Sp.GK(K), SubSp.KM, menjelaskan bahwa komposisi ASI tidak selalu sama. Kandungannya berubah secara dinamis mengikuti tahap menyusui dan kebutuhan bayi.

Pada minggu pertama setelah persalinan, kadar lemak dalam ASI cenderung lebih tinggi, sedangkan kandungan protein belum terlalu banyak. Memasuki minggu kedua dan seterusnya, komposisinya secara bertahap berubah dengan kandungan protein yang lebih tinggi dan kadar lemak yang menyesuaikan kebutuhan bayi.

Menurut Nurul, perubahan tersebut merupakan bagian dari mekanisme alami tubuh. Namun, kondisi tubuh ibu tetap perlu didukung dengan asupan nutrisi ibu menyusui yang cukup dan seimbang.

Pola makan dan kecukupan cairan menjadi dua hal yang tidak boleh diabaikan selama menyusui. Kekurangan protein, kalsium, zat besi, maupun zat gizi lainnya dapat membuat tubuh lebih banyak mengandalkan cadangan nutrisi.

"Jadi kalau misal ASI ibu kurang bagus, protein kurang, kalsium kurang, komposisi tidak seimbang. Modalnya si ibu jadi habis," ujar Nurul kepada Kesehatan Liputan6.com dalam acara peluncuran Gut and Immunity Council di Jakarta pada Rabu (9/9/2026).

Hamil Lagi Saat Menyusui Cadangan Nutrisi Bisa Terkuras

Persoalan cadangan nutrisi menjadi semakin penting ketika seorang ibu kembali hamil dalam waktu yang berdekatan dengan masa menyusui.

Tubuh ibu membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi dan mengisi kembali cadangan nutrisi setelah menjalani kehamilan serta menyusui. Jika proses tersebut belum selesai tetapi ibu kembali hamil dan kemudian menyusui lagi, kebutuhan nutrisi tubuh menjadi semakin besar.

Nurul menggambarkan kondisi tersebut seperti seseorang yang belum sempat menabung kembali cadangan nutrisi setelah menggunakannya selama kehamilan dan menyusui.

"Jadi misalkan anaknya kan tetap harus minum, komposisi ASI-nya harus bagus. Karena ibunya makannya kurang, akhirnya modal dari punya si ibu yang tadinya cukup jadi berkurang," kata Nurul.

Dia mencontohkan ibu yang baru selesai menyusui, kemudian kembali hamil dan menyusui anak berikutnya.

"Contoh paling gampang, misalkan ibunya habis menyusui, kemudian ibunya hamil, terus menyusui lagi. Ibunya belum sempat menabung kalsium, belum sempat menabung zat besi," tambahnya.

Artinya, perhatian terhadap nutrisi ibu menyusui bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan bayi, tetapi juga dengan kemampuan tubuh ibu mempertahankan cadangan gizinya sendiri.

Jangan Sampai Tubuh Ibu Kehabisan 'Modal'

Untuk menjaga kondisi ibu dan mendukung produksi ASI, pemenuhan gizi seimbang perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga masa menyusui.

Protein berkualitas, kalsium, zat besi, vitamin, mineral, serta cairan yang cukup menjadi bagian penting dari pola makan ibu menyusui. Kebutuhan setiap ibu dapat berbeda sehingga pemenuhannya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Pengaturan jarak kehamilan juga dapat memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan diri dan mengisi kembali cadangan nutrisi yang terkuras selama kehamilan dan menyusui.

Oleh sebab itu, ibu yang sedang menyusui dan berencana kembali hamil sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Pemantauan status gizi dapat membantu memastikan kebutuhan ibu terpenuhi tanpa mengabaikan kebutuhan tumbuh kembang anak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya