Liputan6.com, Jakarta - Ada sebagian anak yang cepat memahami percakapan, mampu mengikuti diskusi, dan terlihat memiliki kemampuan berpikir baik tapi kesulitan pada pelajaran tertentu di sekolah. Kondisi tersebut dapat membuat orangtua bingung. Sebab, dalam keseharian anak tampak cerdas dan mampu memahami informasi dengan cepat, tetapi ketika berada di sekolah, hasil belajarnya justru rendah pada bidang tertentu.
Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial, Farid Agung, menjelaskan ketika kemampuan anak terlihat baik tetapi pencapaian akademiknya tidak sesuai dengan potensinya dapat berkaitan dengan gifted underachievement, salah satunya karena gangguan belajar spesifik atau specific learning disorder (SLD).
Advertisement
"Gangguan belajar spesifik merupakan gangguan neurodevelopmental yang membuat anak keseulitan yang bersifat menetap (lebih dari enam bulan) pada satu atau beberapa bidang akademik," kata Farid dalam sesi media bersama IDAI pada Selasa (15/9/2026).
Ada tiga bentuk gangguan belajar spesifik yaitu:
1. Gangguan Belajar Spesifik Membaca atau Disleksia
Tanda:
- Kesulitan memebedakan bunyi huruf atau mengeja sangat buruk
- Sulit membaca kata dengan tepat atau lancar dan sering salah membaca
- Lambat dan mudah lelah saat membaca
- Sulit memahami isi bacaan tapi kalau dibacakan paham.
2. Gangguan Belajar Spesifik Menulis atau Disgrafia
Tanda:
- Tulisan tangan salang stulit dibaca, tidak konsisten atau sangat lambat
- Banyak kesalahan ejaan, tata bahasa, tanda baca
- Sulit menyusun kalimat atau paragraf
- Ide bagus saat memaparkan secara lisan tapi berantakan saat anak menuliskan
3. Gangguan Belajar Spesifik Matematika atau Diskalkulia
Tanda:
- Sulit memahami konsep bilangan, nilai tempat, dan operasi hitung dasar
- Sering salah dalam perhitungan sederhana
- Sulit memahami soal cerita matematika
- Bisa logis dalam bidang lain.
Seberapa Banyak Anak dengan Gangguan Belajar Spesifiik?
Farid mengatakan seorang anak bisa hanya mengalami satu bentuk SLD atau mengalami kombinasi beberapa jenis gangguan belajar. Namun, pengalaman di ruang praktik, ia kerap menemukan pada satu anak terdapat kombinasi dari beberapa kesulitan.
"Kalau yang saya temukan, gangguan belajar spesifik itu sering kali tidak hanya berupa satu kesulitan, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa kesulitan. Dari kombinasi tersebut, yang paling sering muncul adalah kesulitan membaca.
Jadi, anak yang mengalami gangguan belajar spesifik mayoritas tidak hanya mengalami satu jenis gangguan, tetapi bisa mengalami kesulitan pada beberapa kemampuan spesifik lainnya," tuturnya menjawab pertanyaan Liputan6.com.
Bila mengacu pada data global, sekita 5 hingga 15 persen anak usia sekolah mengalami kondisi tersebut.
Jika orangtua merasa ada kecurigaan segera konsultasikan dengan guru. Lalu, untuk menegakkan diagnosis segera berkonsulatsi dengan tenaga medis profesional. Jika memang anak mengalami gangguan belajar spesifik maka bisa segera dilakukan intervensi.
"Diharapkan anak bisa memiliki kemampuan coping, sehingga mampu mengejar materi atau mencapai target pembelajaran yang sama dengan teman-temannya. Namun, kondisi ini menetap," kata Farid.