Liputan6.com, Jakarta - Disleksia adalah salah satu gangguan belajar spesifik. Pada kondisi ini anak sulit membaca dengan tepat dan sering salah baca. Banyak yang menyebut kondisi ini karena anak malas atau kurang rajin berlatih. Faktanya tidak seperti itu.
Anak dengan disleksia memiliki IQ yang normal atau bahkan di atas rata-rata. Kondisi tersebut terjadi karena otak bekerja dengan cara berbeda sehingga perlu penanganan yang tepat dan terstruktur agar anak dapat berkembang dengan baik.
Advertisement
"Kan banyak yang menyarankan, ayo coba lebih rajin lagi. Padahal dalam kondisi ini butuh pendekatan dan dukungan berbeda, tidak sekadar coba lebih rajin lagi," kata dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang dan pediatri sosial, Farid Agung Rahmadi dari Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI.
Maka dari itu, ketika orangtua atau guru mendapati ada anak usia sekolah yang secara konsisten lebih dari enam bulan kesulitan membaca belum tentu karena kemalasan atau bodoh. Guru dapat memberikan intervensi pembelajaran sesuai kebutuhan anak dan memantau perkembangannya.
Jika kesulitan tersebut tetap muncul secara konsisten, anak dapat diarahkan untuk mendapatkan asesmen dari tenaga profesional. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah kesulitan tersebut termasuk gangguan belajar spesifik, sekaligus melihat apakah terdapat kondisi penyerta atau komorbid yang perlu ditangani.
"Perlu dievaluasi betul-betul, jangan-jangan gangguan belajar spesifik," kata Farid dalam temu media daring pada Selasa (15/9/2026).
Dengan deteksi dan intervensi yang tepat, anak diharapkan dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi kesulitannya dan mengikuti target pembelajaran bersama teman-temannya.
Tanda Disleksia yang Bisa Dikenali Orangtua dan Guru
Farid mengatakan beberapa tanda yang bisa dikenali orangtua dan guru :
Untuk usia SD kelas 1 - 3
- Sulit belajar huruf-bunyi
- Sulit mengeja atau membaca kata sederhana dibanding teman sebaya
- Menghindari kegiatan membaca seperti mengeluh cepat lelah atau mengeluh 'pusing' atau ngantuk saat mengerjakan PR
- Hasil tes lisan jauh lebih baik dari tertulis.
Jika orangtua atau guru menemukan gejala di atas segera konsultasikan dengan pakar profesional.