Liputan6.com, Jakarta - Ketika mendengar kata stevia, banyak orang mungkin langsung membayangkannya sebagai pemanis alami pengganti gula. Tanaman Stevia rebaudiana memang dikenal sebagai pemanis rendah kalori yang dapat menjadi pilihan bagi penderita diabetes maupun orang yang ingin mengurangi konsumsi gula.
Namun, menurut dr. Danang Ardiyanto, MKM dari UPF Yankestrad RSUP Dr Sardjito, potensi stevia jauh lebih luas daripada sekadar sebagai pemanis rendah kalori. Tanaman yang telah digunakan selama ratusan tahun ini mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung kesehatan metabolik, jantung, hati, ginjal, hingga membantu melawan stres oksidatif.
Advertisement
"Meski sebagian manfaat tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, berbagai hasil penelitian yang ada menunjukkan potensi yang menarik," kata Danang saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat pada Kamis, 17 September 2026.
Mengenal Stevia Rebaudiana
Stevia rebaudiana Bertoni merupakan tanaman herbal yang berasal dari Paraguay dan Brasil. Dijelaskan Danang bahwa daunnya telah digunakan selama ratusan tahun oleh masyarakat suku Guarani sebagai pemanis alami sekaligus obat tradisional.
Daun stevia mengandung senyawa utama berupa steviol glikosida, terutama stevioside dan rebaudioside A. Senyawa tersebut memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 hingga 300 kali lebih manis dibandingkan gula pasir, tapi hampir tidak mengandung kalori.
Karakteristik inilah yang membuat stevia dikenal luas sebagai alternatif pemanis yang lebih rendah kalori dibandingkan gula maupun beberapa pemanis buatan.
Bisa Jadi Pilihan untuk Mengurangi Konsumsi Gula
Konsumsi gula berlebih menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya angka obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan sindrom metabolik.
Ketika seseorang mengonsumsi gula pasir, kadar glukosa darah meningkat sehingga tubuh perlu menghasilkan insulin untuk mengendalikannya. Jika berlangsung berlebihan dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membebani sistem metabolisme tubuh.
Danang menjelaskan bahwa stevia bekerja dengan cara yang berbeda. Senyawa pemanisnya tidak diubah menjadi glukosa dalam jumlah bermakna sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah seperti yang terjadi setelah mengonsumsi gula biasa.
"Karena itu, stevia banyak digunakan oleh penderita diabetes melitus, individu dengan obesitas, orang yang sedang menjalani program penurunan berat badan, serta masyarakat yang ingin menerapkan pola makan sehat," tambahnya.
Selain membantu mengurangi konsumsi gula, penggunaan stevia juga dapat membantu menurunkan total asupan kalori harian.
Manfaat Stevia Tak Berhenti pada Rasa Manis
Berikut manfaat daun stevia yang harus kamu ketahui:
1. Sumber Antioksidan Alami
Setiap hari tubuh terpapar radikal bebas yang berasal dari polusi, stres, asap rokok, makanan tidak sehat, hingga proses metabolisme normal.
Jika jumlah radikal bebas berlebihan, dapat terjadi stres oksidatif. Kondisi ini berperan dalam proses penuaan dan berbagai penyakit kronis.
"Daun stevia mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa tersebut membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas," kata Danang.
2. Membantu Mengendalikan Peradangan
Peradangan kronis tingkat rendah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan diabetes, penyakit jantung, obesitas, hingga gangguan neurodegeneratif.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stevioside memiliki aktivitas antiinflamasi dengan membantu menekan pembentukan mediator peradangan tertentu di dalam tubuh.
Meski bukan pengganti obat antiinflamasi, sifat tersebut menunjukkan potensi stevia sebagai tanaman fungsional yang dapat mendukung kesehatan jangka panjang.
3. Berpotensi Membantu Mengendalikan Gula Darah
Selain tidak meningkatkan kadar gula darah seperti gula biasa, beberapa penelitian menunjukkan stevioside berpotensi membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki metabolisme glukosa.
Penelitian mengenai mekanisme tersebut masih terus dilakukan. Namun, hasil awal menunjukkan potensi yang menarik, terutama bagi penderita sindrom metabolik dan diabetes.
4. Berpotensi Menurunkan Tekanan Darah
Beberapa studi klinis menemukan konsumsi stevioside dalam dosis tertentu dapat membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Mekanismenya diduga berkaitan dengan efek relaksasi otot pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lebih lancar.
Meski demikian, stevia tidak dapat menggantikan obat antihipertensi yang telah diresepkan dokter.
5. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
Bakteri penyebab gigi berlubang menyukai gula sebagai sumber energi.
Berbeda dengan sukrosa, stevia tidak difermentasi oleh bakteri di dalam mulut sehingga tidak memicu pembentukan asam yang dapat merusak email gigi.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya aktivitas antimikroba terhadap bakteri penyebab karies, seperti Streptococcus mutans.
6. Berpotensi Melindungi Hati
Hati merupakan organ utama yang bertugas menetralisir berbagai zat asing yang masuk ke dalam tubuh.
Penelitian pada hewan menunjukkan ekstrak stevia berpotensi membantu melindungi sel hati dari kerusakan akibat stres oksidatif dan peradangan.
Namun, penelitian klinis pada manusia masih diperlukan untuk memastikan manfaat tersebut.
7. Berpotensi Mendukung Fungsi Ginjal
Sejumlah studi eksperimental menunjukkan stevia memiliki efek diuretik ringan dan berpotensi mendukung fungsi ginjal melalui mekanisme antioksidan serta antiinflamasi.
Meski demikian, manfaat tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum dapat direkomendasikan secara klinis.
8. Memiliki Potensi Antikanker
Penelitian di laboratorium menunjukkan beberapa komponen dalam stevia mampu menghambat pertumbuhan sel kanker tertentu dan merangsang proses apoptosis atau kematian sel yang tidak normal.
Namun, Danang menekankan bahwa hasil tersebut masih berada pada tahap penelitian dasar. "Artinya, temuan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menggunakan stevia sebagai terapi kanker pada manusia," tambahnya.
9. Mendukung Kesehatan Saluran Cerna
Steviol glikosida tidak langsung diserap di usus halus. Senyawa tersebut dipecah oleh mikroorganisme di dalam usus menjadi senyawa yang lebih sederhana.
Karena proses tersebut, para peneliti mulai mengeksplorasi kemungkinan pengaruh stevia terhadap keseimbangan mikrobiota usus, yang berperan penting dalam kesehatan pencernaan dan sistem imun.
Stevia Bukan Obat Ajaib
Keamanan stevia telah dievaluasi oleh sejumlah badan kesehatan, termasuk WHO, FAO, European Food Safety Authority (EFSA), dan US Food and Drug Administration (FDA).
Hasil evaluasi menunjukkan steviol glikosida aman digunakan dalam batas konsumsi yang dianjurkan.
Stevia dapat digunakan oleh orang dewasa, lansia, pasien diabetes, maupun individu yang sedang mengontrol berat badan.
Meski demikian, prinsip konsumsi bijak tetap perlu diterapkan. Tidak ada satu bahan pangan yang dapat memberikan manfaat maksimal jika dikonsumsi secara berlebihan.
Sebagai dokter yang menekuni pengobatan herbal berbasis bukti ilmiah, Danang memandang Stevia rebaudiana sebagai salah satu contoh bagaimana alam menyediakan solusi yang menarik untuk menghadapi masalah kesehatan modern.
Stevia bukan hanya pemanis alami rendah kalori. Tanaman ini juga mengandung berbagai senyawa bioaktif dengan potensi antioksidan, antiinflamasi, antihipertensi, antimikroba, serta pendukung kesehatan metabolik.
"Namun, stevia bukanlah 'obat ajaib'. Kesehatan tidak ditentukan oleh satu tanaman, satu suplemen, atau satu jenis makanan," ujar Danang.
Menurutnya, kesehatan dibangun melalui kombinasi pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
"Jika gula menjadi salah satu tantangan kesehatan di era modern, stevia mungkin dapat menjadi salah satu pilihan alami untuk membantu menguranginya secara lebih bijaksana," pungkasnya.