Kolom Pakar: Orangtua Berhak Bahagia, Anak Harus Tetap Aman

Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan oleh sejumlah kejadian yang melibatkan anak-anak saat orangtua mereka melakukan aktivitas sendiri.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 26 Oktober 2026, 18:45 WIB
Psikolog klinis dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Efnie Indrianie.

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini, semakin banyak orangtua yang ingin tetap mempertahankan identitas pribadi. Termasuk menjalankan hobi, mengembangkan karier, menikmati perjalanan, dan memenuhi kebutuhan aktualisasi diri meskipun sudah memiliki anak.

Secara psikologis, keinginan tersebut sangat manusiawi dan bukan sesuatu yang keliru. Menjadi orangtua tidak berarti seseorang harus kehilangan seluruh ruang untuk dirinya sendiri.

Namun, persoalan muncul ketika kebutuhan aktualisasi diri orangtua tidak diimbangi dengan kesadaran terhadap kebutuhan perkembangan dan keselamatan anak.

Dalam perspektif bio-neuropsikologi, anak usia dini masih memiliki keterbatasan dalam kemampuan mengenali bahaya, mengendalikan impuls, mengantisipasi konsekuensi, dan mengambil keputusan yang aman. Hal ini berkaitan dengan perkembangan sistem saraf dan fungsi eksekutif otak yang belum matang.

Artinya, anak belum dapat diberikan tanggung jawab menjaga keselamatan dirinya sebagaimana orang dewasa. Persoalannya bukan apakah orangtua boleh menikmati hidup, melainkan apakah dalam proses menikmati hidup tersebut keselamatan anak tetap ditempatkan sebagai prioritas yang tidak dapat ditawar.

Orangtua mungkin melihat anak sudah mampu bermain, makan, atau tidur sendiri. Tetapi, kemampuan tersebut tidak otomatis berarti anak sudah mampu menghadapi situasi berbahaya tanpa pengawasan orang dewasa.

Orangtua perlu memahami bahwa kebahagiaan keluarga bukan sekadar terpenuhinya kebutuhan pribadi orangtua, melainkan terciptanya keseimbangan antara kebutuhan orangtua, kebutuhan perkembangan anak, dan keamanan seluruh anggota keluarga.

 

Menikmati Hidup Tanpa Abaikan Anak

Orangtua untuk tetap memiliki kehidupan pribadi yang sehat dan menyenangkan. Sebab, kesejahteraan psikologis orangtua juga merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat bagi anak.

Tetapi, kebebasan tersebut perlu dijalankan dengan perencanaan dan tanggung jawab. Ada beberapa prinsip yang penting diperhatikan:

Pertama, sesuaikan aktivitas dengan usia dan kapasitas perkembangan anak. Tidak semua kegiatan orang dewasa cocok dilakukan bersama anak, terutama ketika aktivitas tersebut memiliki risiko lingkungan yang tinggi.

Kedua, apabila ingin melakukan aktivitas yang kurang sesuai untuk anak, orangtua dapat menitipkan anak kepada pengasuh atau anggota keluarga yang benar-benar kompeten, bersedia, dan mampu melakukan pengawasan secara aktif.

Ketiga, terapkan shared parenting responsibility. Ayah dan ibu dapat berbagi peran sehingga kebutuhan pribadi masing-masing tetap terpenuhi tanpa mengorbankan keamanan anak.

Keempat, orangtua perlu memiliki kemampuan menunda kepuasan atau delay of gratification. Ada kalanya aktivitas yang sangat ingin dilakukan perlu ditunda, dimodifikasi, atau dibatalkan karena kondisi anak belum memungkinkan.

Kelima, bangun aktivitas keluarga yang memberikan pengalaman menyenangkan bagi orangtua sekaligus aman dan sesuai dengan kebutuhan anak.

Menjadi orangtua bukan berarti berhenti menikmati kehidupan, tetapi belajar menikmati kehidupan dengan mempertimbangkan kehadiran individu lain yang masih sangat bergantung pada kita.

Anak tidak pernah meminta orangtuanya berhenti menikmati hidup. Tetapi, setiap anak membutuhkan orangtua yang mampu membedakan antara keinginan pribadi dan tanggung jawab perlindungan.

Kita boleh mengejar kebahagiaan, pengalaman, bahkan mimpi-mimpi yang belum tercapai. Namun, jangan sampai dalam proses mengejar kebahagiaan tersebut kita mengabaikan keselamatan anak yang masih sepenuhnya bergantung kepada kita.

 

 

** Penulis adalah psikolog klinis yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Maranatha Bandung juga PhD Candidate Radboud University Netherland bidang Bio-Neuro-Psychology

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya