Liputan6.com, Serpong - Penting bagi perempuan untuk mengenali perubahan pada payudara. Selain rutin memeriksa payudara, bila ada tanda yang mencurigakan segera periksa.
Dokter spesialis bedah konsultan onkologi, Sonar Soni Paniogoro menjelaskan pengenalan gejala sejak awal dapat membantu tenaga medis menentukan diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Advertisement
"Penanganan pada stadium dini juga membuka peluang lebih besar untuk memperoleh hasil pengobatan yang optimal," kata Sonar Soni Panigoro di Serpong, Tangerang Selatan pada Senin (26/10/2026).
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain munculnya benjolan di payudara atau ketiak, perubahan tekstur kulit seperti berlekuk atau tertarik, perubahan bentuk maupun arah puting, keluarnya cairan dari puting, serta munculnya ruam atau perubahan kulit yang tidak biasa.
Masyarakat juga, katanya, perlu memahami bahwa tidak semua benjolan merupakan kanker. Namun, setiap perubahan baru yang mencurigakan perlu diperiksa oleh tenaga medis agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.
"Selain mengenali gejala, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan konsultasi dengan dokter merupakan bagian penting dari upaya deteksi dini. Pemeriksaan yang dibutuhkan dapat berbeda sesuai usia, riwayat kesehatan, serta tingkat risiko masing-masing individu," kata dokter dari Eka Hospital BSD itu mengutip Antara.
Cara Mengurangi Risiko Kanker Payudara
Upaya mengurangi risiko kanker payudara dapat dilakukan dengan menjaga berat badan yang sehat, rutin beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menghindari rokok, serta membatasi atau menghindari alkohol.
Deteksi dini dan penerapan pola hidup sehat, juga menjadi langkah penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan kanker payudara.
Kanker payudara juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak dapat diubah maupun yang berkaitan dengan gaya hidup. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi pertambahan usia, riwayat keluarga, dan faktor genetik tertentu.
Sementara itu, sejumlah faktor yang dapat dimodifikasi berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, seperti kurangnya aktivitas fisik, kelebihan berat badan, serta konsumsi alkohol.
"Riwayat reproduksi dan penggunaan terapi hormon tertentu juga dapat mempengaruhi risiko sehingga perlu dibicarakan dengan dokter sesuai kondisi masing-masing," kata Sonar.