Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan perempuan dengan polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) atau sindrom ovarium metabolik poliendokrin tidak selalu mudah. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari siklus menstruasi hingga kesuburan dan kepercayaan diri.
Sejalan dengan hal tersebut, tantangan yang dihadapi pasien tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga dampak kondisi tersebut terhadap keseharian mereka.
Advertisement
Dokter Wee Wei Wei, SpOG, menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang umum dialami pasien PMOS adalah menstruasi yang tidak teratur. Bagi sebagian perempuan, kondisi ini dapat menimbulkan perasaan berbeda dari perempuan lain yang memiliki siklus menstruasi teratur.
“Banyak pasien PMOS tidak mengalami menstruasi secara teratur. Sebagian perempuan merasa dirinya tidak normal karena mereka ingin memiliki siklus menstruasi yang teratur,” jelas Wei Wei di sela wawancara daring menjawab Kesehatan Liputan6.com beberapa waktu lalu.
Tantangan berikutnya dapat muncul ketika pasien merencanakan kehamilan. Menurut Wei Wei, sebagian perempuan dengan PMOS mengalami masalah kesuburan karena tidak mengalami ovulasi setiap bulan.
Ovulasi itu sendiri merupakan proses pelepasan sel telur dari ovarium yang berperan dalam terjadinya kehamilan.
Akibatnya, peluang untuk hamil dapat menurun. Meski demikian, kondisi ini tidak berarti seluruh perempuan dengan PMOS tidak bisa mendapat kehamilan.
Perubahan Fisik Bisa Memengaruhi Kepercayaan Diri
Selain gangguan menstruasi dan kesuburan, perubahan fisik juga menjadi tantangan bagi sebagian pasien. Wei Wei menyebutkan bahwa dalam pengalamannya, banyak pasien PMOS memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi dan cenderung kesulitan menurunkan berat badan.
Sebagian pasien juga mengalami jerawat dan pertumbuhan rambut berlebih di wajah. Perubahan tersebut dapat memengaruhi cara mereka memandang penampilan diri serta menurunkan kepercayaan diri.
Tantangan ini dapat membuat perjalanan pasien terasa lebih berat karena mereka harus menghadapi keluhan fisik sekaligus dampaknya terhadap kehidupan sosial dan emosional.
“Terkait penampilan, berdasarkan pengalaman saya, banyak pasien PMOS punya indeks massa tubuh (BMI) yang tergolong tinggi. Selain itu, adanya jerawat atau tumbuh rambut di wajah juga memengaruhi kepercayaan diri terhadap penampilan,” kata dokter dari Gleneagles Hospital Singapore itu.
Risiko Gangguan Metabolik Perlu Diperhatikan
Sementara itu, ia juga menyoroti bahwa PMOS merupakan kondisi yang berkaitan dengan metabolisme tubuh. Oleh sebab itu, perhatian terhadap kondisi ini tidak berhenti pada menstruasi atau kesuburan saja.
Menurutnya, pasien juga perlu mewaspadai risiko gangguan metabolik, termasuk diabetes dan tekanan darah tinggi. Kondisi metabolik yang saling berkaitan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan lain dalam jangka panjang.
“Ini merupakan kondisi metabolik yang berkaitan dengan obesitas, kadar gula darah tinggi, dan berbagai masalah metabolisme yang dapat terjadi bersamaan,” ujar Wei Wei.
Ia turut menyebutkan risiko penyakit lain, seperti stroke dan kanker. Namun, risiko setiap pasien tidak sama dan bergantung pada berbagai faktor kesehatan.
Dengan beragam tantangan tersebut, perjalanan pasien PMOS membutuhkan perhatian yang menyeluruh. Pemeriksaan dan penanganan perlu disesuaikan dengan keluhan serta kondisi kesehatan masing-masing pasien, termasuk kesehatan reproduksi dan metabolisme.