Orang Obesitas Berisiko Alami Fatty Liver

Sekitar 70 persen kasus fatty liver ditemukan pada orang dengan obesitas.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 28 Oktober 2026, 15:30 WIB
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Irsan Hasan bicara tentang risiko orang obesitas mengalami fatty liver. (Foto: Benedikta Desideria/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Fatty liver atau perlemakan hati berisiko terjadi pada orang obesitas. Sekitar 70 persen kasus fatty liver ditemukan pada orang obesitas seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Irsan Hasan.

"Kalau bertemu orang obesitas, bisa menebak kayaknya ada fatty liver karena sekitar 70 persen fatty liver itu pada pasien obesitas," tutur Irsan saat temu media bersama Eka Hospital MT Haryono Jakarta pada Selasa (28/10/2026).

Lantaran punya risiko tinggi alami perlemakan hati, Penasihat Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini, menyarankan orang obesitas saat medical check-up untuk melakukan pemeriksaan untuk mengecek kondisi hati.

"Kalau ada obesitas, jangan cek darah doang. Periksa juga USG atau elastografi untuk mengetahui ada fatty liver atau tidak," pesannya.

Selain orang obesitas, kelompok lain yang berisiko fatty liver adalah orang dengan kondisi berikut:

  • Diabetes tipe 2:Resistensi insulin adalah motor penggerak utama penumpukan lemak di hati.
  • Hipertensi: : Tekanan darah tinggi sering berjalan beriringan dengan gangguan metabolik lainnya.
  • Kelainan profil lipid (kolesterol): : Memiliki kadar trigliserida yang tinggi dan kadar kolesterol baik (HDL) yang rendah di dalam darah.

Tantangan saat ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan mengenai fatty liver. Ia mencontohkan pasien diabetes belum rutin menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi perlemakan hati.

“Setiap pasien diabetes seharusnya diperiksa apakah mengalami fatty liver atau tidak. Itu merupakan rekomendasi dari berbagai organisasi, salah satunya organisasi diabetes di Amerika Serikat. Jadi, setiap pasien diabetes seharusnya diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya fatty liver,” kata Irsan.

Fatty Liver Tidak Boleh Diabaikan

Fatty liver atau perlemakan hati adalah kondisi penumpukan lemak berlebih di dalam sel-sel hati yang perlahan dapat mengganggu fungsi organ tersebut. Dalam dunia medis kondisi ini disebut dengan MASLD (Metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease).

Irsan menjelaskan organ hati yang sehat secara alami memang mengandung sejumlah kecil lemak. Namun, ketika berat lemak sudah melebihi 5% hingga 10% dari total berat organ hati, kondisi tersebut secara medis diklasifikasikan sebagai fatty liver.

Fatty liver tidak boleh diabaikan karena penumpukan lemak yang dibiarkan bertahun-tahun akan memicu peradangan kronis yang perlahan menghancurkan sel-sel hati sehat dan mengubahnya menjadi jaringan parut (fibrosis).

Jika tidak segera ditangani melalui perubahan gaya hidup, MASLD akan tambah parah secara bertahap dan dapat mengancam nyawa. Berikut ini tahapnya:

1. Steatosis

Pada fase ini, lemak mulai menumpuk di dalam sel hati namun belum memicu peradangan yang signifikan. Tingkat keparahannya masih tergolong ringan, sel hati belum rusak, dan kondisi ini bisa disembuhkan secara total dengan perbaikan gaya hidup.

2. MASH

Jika dibiarkan, penyakit akan berlanjut ke tahap MASH (Metabolic dysfunction-Associated Steatohepatitis). Pada tahap ini, penumpukan lemak memicu peradangan aktif dan pembengkakan.

Sel-sel hati mulai mengalami kerusakan tingkat sedang, meskipun kondisinya masih sangat mungkin untuk disembuhkan.

3. Fibrosis hati

"Fibrosis itu jaringan parut," kata Irsan.

Peradangan kronis yang terjadi terus-menerus menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang kaku. Tingkat keparahan pada fase ini tergolong berat karena organ hati mulai kehilangan elastisitasnya dan fungsinya mulai terganggu.

4. Sirosis hati

Tahap kerusakan akhir. Pada kondisi sirosis, jaringan parut telah menyebar luas, membuat hati mengerut, mengeras, dan pada akhirnya gagal berfungsi. Kerusakan pada tahap sirosis bersifat permanen dan berisiko tinggi memicu komplikasi fatal seperti kanker hati.

"Kalau sudah sirosis itu kan harusnya dicangkok," kata Irsan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya