Gaji Bukan Satu-satunya Masalah, Ini Pemicu Burnout Karyawan

Gaji bukan satu-satunya pemicu burnout karyawan. Beban kerja dan manajemen perusahaan turut berpengaruh.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 29 Oktober 2026, 12:00 WIB
Burnout pada karyawan tidak hanya berkaitan dengan besaran gaji. Survei internal Payuung menunjukkan beban kerja dan tekanan waktu menjadi faktor utama, disusul persoalan arahan serta manajemen perusahaan. (foto:unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Tekanan di tempat kerja tidak selalu berkaitan dengan besaran gaji. Beban kerja yang menumpuk, tenggat waktu yang ketat, hingga persoalan arahan dan manajemen perusahaan justru menjadi faktor yang lebih banyak dikaitkan dengan burnout atau kelelahan akibat tekanan pekerjaan.

Temuan ini terungkap dalam survei internal Payuung yang melibatkan sekitar 40 peserta dalam acara kesehatan mental.

Sebanyak 33 persen responden menyebut beban kerja dan tekanan waktu sebagai faktor yang berkaitan dengan burnout. Sementara itu, 25 persen responden menyoroti persoalan arahan dan manajemen perusahaan. Adapun gaji hanya disebut oleh 2 persen responden.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa tekanan di tempat kerja tidak hanya berkaitan dengan persoalan finansial. Cara perusahaan mengatur beban kerja, memberikan arahan, dan mendukung karyawan juga perlu menjadi perhatian. Meski demikian, survei internal dengan jumlah responden terbatas ini tidak dapat dianggap mewakili kondisi seluruh pekerja di Indonesia.

CEO Payuung dan Fast8 People Hub, Afia Fitriati, menilai perusahaan perlu memperluas perhatian terhadap kesejahteraan karyawan. Menurutnya, pemberian gaji dan tunjangan saja belum cukup jika pekerja tidak memiliki akses terhadap bantuan saat menghadapi tekanan.

“Ketika karyawan tidak memiliki ruang untuk mencari bantuan, produktivitasnya akan menurun dan pada akhirnya perusahaan juga akan terdampak,” ujar Afia dalam pernyataan resmi pada Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, dukungan terhadap karyawan juga perlu mencakup bantuan untuk menghadapi tekanan pekerjaan, membangun komunikasi dengan atasan, serta mendapatkan pendampingan terkait kesehatan mental, keuangan, dan pengembangan karier.

Perluas Akses Konseling bagi Karyawan

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Payuung memperkenalkan layanan konseling dan konsultasi profesional pada 10 Oktober lalu, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia.

Layanan ini menambah pilihan benefit yang dapat disediakan perusahaan melalui Payuung. Jika sebelumnya platform tersebut mencakup perlindungan kesehatan dan dukungan finansial, kini perusahaan juga dapat memfasilitasi konsultasi terkait kesehatan mental, pengelolaan keuangan, dan pengembangan karier.

Karyawan dapat memilih tenaga profesional sesuai kebutuhan dan mengikuti sesi konsultasi secara daring selama 30 hingga 150 menit. Layanan ini juga menjamin kerahasiaan sesi konsultasi.

Afia berharap layanan tersebut dapat membantu perusahaan menyediakan fasilitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan karyawan sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung perkembangan mereka.

“Kami ingin membantu lebih banyak perusahaan Indonesia menjadi green flag companies atau tempat kerja yang sehat bagi semua orang, baik pebisnis maupun karyawan, agar dapat tumbuh dan berkembang,” katanya.

Perwakilan HR PT Krona Digital Agency, Zaky, juga mengungkapkan manfaat platform tersebut dalam memudahkan pengelolaan benefit dan membantu perusahaan menyediakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan karyawan.

“Sangat membantu perusahaan dalam memberikan fasilitas yang bermanfaat bagi karyawan. Prosesnya mudah dan praktis, sehingga karyawan bisa merasakan manfaatnya secara langsung dan perusahaan juga terbantu dalam mendukung kesejahteraan karyawan,” ujar Zaky.

Melalui layanan ini, Payuung berupaya memperluas dukungan bagi karyawan, mulai dari perlindungan kesehatan dan keuangan hingga akses konsultasi untuk menghadapi persoalan mental dan merencanakan pengembangan karier.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya