Liputan6.com, Jakarta - Penyakit pes atau plague sempat ramai dibahas usai seorang ilmuwan Rusia meninggal dunia diduga akibat infeksi penyakit tersebut. Pes merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penularannya berkaitan erat dengan tikus dan pinjal yang hidup sebagai parasit pada tubuh hewan pengerat tersebut.
Dosen Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB University, Dr Swastiko Priyambodo, menjelaskan bahwa pinjal tikus, salah satunya Xenopsylla cheopis, berperan sebagai vektor dalam penularan penyakit pes. Pinjal merupakan ektoparasit yang hidup dengan mengisap darah tikus. Bakteri penyebab pes dapat ditularkan kepada manusia melalui gigitan pinjal yang terinfeksi.
Advertisement
“Dengan demikian terdapat tiga tingkat trofik yang bekerja sama dalam penularan penyakit pes, yaitu tikus, pinjal tikus, dan bakteri pes,” jelas Swastiko.
Pinjal umumnya tidak berpindah inang apabila masih dapat bertahan pada inang sebelumnya. Namun, ketika tikus yang menjadi inangnya mati, pinjal akan mencari inang baru. Jika pinjal terinfeksi kemudian menggigit manusia, bakteri penyebab pes dapat masuk ke tubuh manusia.
Berbagai spesies tikus berpotensi berperan dalam penularan penyakit ini. Namun, tikus rumah dan tikus Norway menjadi perhatian karena hidup berdekatan dengan manusia sehingga peluang terjadinya kontak lebih besar.
Penyakit pes juga memiliki catatan sejarah yang serius. Pada periode 1347–1351, wabah Black Death melanda Eropa, Afrika Utara, dan Asia Barat serta menyebabkan kematian dalam jumlah sangat besar. Peristiwa tersebut menunjukkan dampak yang dapat ditimbulkan penyakit pes ketika penularannya meluas.
Sementara itu saat ini Indonesia, penyakit pes masih ditemukan secara terbatas di sejumlah kabupaten di Pulau Jawa. Kondisi tersebut juga terus dipantau oleh Kementerian Kesehatan.
Lantaran tikus memiliki peran penularan pes, pengendalian hewan pengerat tersebut di lingkungan permukiman menjadi bagian penting dalam pencegahan.
“Pengendalian tikus di habitat sekitar manusia menjadi hal yang penting untuk kita terapkan, terutama dengan cara sanitasi, menghilangkan sumber daya atau makanan manusia yang dapat dimakan oleh tikus seperti tempat sampah,” ungkapnya dikutip dari laman IPB.