Infeksi Tenggorokan Tak Ditangani, Katup Jantung Bisa Rusak

Gejala katup jantung antara lain sesak napas, nyeri dada, pingsan, atau hampir pingsan.

Diterbitkan 02 November 2026, 19:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Infeksi tenggorokan akibat bakteri Streptococcus tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ditangani dengan tepat, infeksi ini dapat memicu demam rematik yang berisiko merusak katup jantung.

"Jadi radang di tenggorokan biasanya penyebabnya (bakteri) Streptococcus, itu akan masuk ke dalam jantung. Di jantung, akan berproses karena imunitas tubuh tidak bagus," kata dokter Puti Sarah Saus, SpJP(K).

Kondisi ini biasanya mengenai masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Orang-orang tersebut cenderung tidak memiliki daya tahan tubuh yang bagus karena kurang gizi.

Selain karena infeksi tenggorokan yang tidak diobati serius, gangguan katup jantung juga bisa terjadi pada orang tua. Biasanya terjadi pada mereka yang berusia 70-an.

"Pada orang tua justru juga ada. Itu biasanya bukan karena infeksi tapi karena degenaratif, itu banyak juga," kata dokter dari Heartology Cardiovascular Hospital Jakarta di sela-sela CARES (Cardiac & Vascular Excellence Scientific Update) 2026 pada Sabtu (31/10/2026).

Dampak Katup Jantung Rusak

Puti mengatakan kerusakan katup dapat mengganggu fungsi jantung dalam memompa darah. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas, nyeri dada, pingsan, atau hampir pingsan.

Pada sebagian pasien, keluhan baru muncul setelah kerusakan katup berlangsung cukup lama. Karena itu, pemeriksaan sejak dini diperlukan, terutama jika seseorang memiliki riwayat infeksi yang berisiko menimbulkan komplikasi.

Pemeriksaan awal dapat dilakukan oleh dokter umum. Jika ditemukan dugaan gangguan jantung, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis jantung untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ekokardiografi atau USG jantung menjadi salah satu pemeriksaan penting untuk melihat struktur dan fungsi katup.

 

Penanganan Gangguan Katup Jantung

Gangguan katup jantung tidak berarti pasien harus menjalani operasi. Penanganan ditentukan berdasarkan jenis kerusakan, tingkat keparahan, dan kondisi pasien.

Puti mengatakan, pasien perlu menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan apakah membutuhkan tindakan intervensi.

"Kalau ada pasien dengan kasus seperti itu, harus segera dilakukan pemeriksaan atau diagnostik secara detail. Dari situ bisa dinilai apakah pasien perlu menjalani tindakan," jelasnya.

Saat ini, penanganan gangguan katup jantung juga berkembang melalui prosedur minimal invasif menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah, termasuk dari area paha. Metode ini dapat menjadi pilihan bagi pasien tertentu sebagai alternatif operasi bedah terbuka.

Â