Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah kulit tiba-tiba merinding saat kedinginan, ketakutan, mengingat sesuatu, atau mengalami momen yang menyentuh emosi? Kondisi yang sering disebut bulu merinding ini ditandai dengan munculnya bintil-bintil kecil di permukaan kulit dan rambut halus yang berdiri.
Dalam istilah medis, kondisi tersebut dikenal sebagai piloerection. Merinding merupakan respons otomatis tubuh yang melibatkan sistem saraf simpatik, yaitu bagian dari sistem saraf yang berperan dalam respons fight-or-flight atau melawan maupun menghindar.
Advertisement
Praktisi perawat di bidang kedokteran keluarga, Sara Fandino, APRN, menjelaskan bahwa aktivasi sistem saraf simpatik membuat otot-otot kecil di pangkal folikel rambut berkontraksi. Akibatnya, rambut berdiri dan permukaan kulit membentuk benjolan-benjolan kecil.
Melansir Cleveland Clinic, Rabu (4/11/2026), merinding dapat terjadi pada bagian tubuh yang memiliki rambut, seperti leher, lengan, dan kaki.
Tak Hanya karena Kedinginan, Ini Penyebab Bulu Merinding
Paparan suhu dingin merupakan salah satu pemicu paling umum kulit merinding. Namun, reaksi ini juga bisa muncul akibat rangsangan emosional dan psikologis.
Perasaan takut, terkejut, marah, hingga gembira secara tiba-tiba dapat memicu respons tersebut. Selain itu, keintiman dan gairah seksual juga bisa menyebabkan seseorang merinding.
Rangsangan sensorik seperti mendengarkan musik, menonton film, atau mengalami autonomous sensory meridian response (ASMR) juga dapat memunculkan reaksi serupa.
Sensasi menggigil yang dipicu oleh rangsangan emosional atau sensorik ini dikenal sebagai frisson atau psychogenic shivers.
Bagaimana Tubuh Mengalami Merinding?
Pada manusia, merinding merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk membantu mempertahankan suhu. Ketika suhu lingkungan menurun, otot-otot kecil di sekitar folikel rambut berkontraksi sehingga rambut berdiri.
Mekanisme ini merupakan respons alami tubuh terhadap dingin. Pada hewan berbulu, rambut atau bulu yang berdiri dapat membantu memerangkap lapisan udara untuk mempertahankan panas tubuh.
Selain itu, bulu yang mengembang juga membuat tubuh hewan tampak lebih besar sehingga dapat memberikan kesan mengancam bagi predator.
Fandino menjelaskan bahwa menjaga suhu tubuh tetap stabil penting bagi kesehatan secara keseluruhan. Tubuh memiliki mekanisme alami untuk memberikan sinyal ketika menghadapi kondisi yang berpotensi mengganggu keseimbangan tersebut.
"Mempertahankan suhu yang stabil sangat penting bagi kesehatan kita secara keseluruhan, dan tubuh manusia dirancang dengan sempurna untuk memberi tahu ketika ada sesuatu yang membahayakan kesejahteraan kita," jelasnya.
Kapan Bulu Merinding Perlu Diwaspadai?
Pada umumnya, kulit merinding merupakan respons alami tubuh dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika terjadi berulang kali tanpa pemicu yang jelas, kondisi ini terkadang dapat berkaitan dengan masalah kesehatan tertentu.
Beberapa kondisi yang dapat disertai gejala merinding antara lain:
- Keratosis pilaris: Kondisi kulit akibat penumpukan keratin yang menyumbat folikel rambut. Kulit biasanya terasa kasar, kering, dan berbintil.
- Gangguan kecemasan: Kecemasan umum maupun serangan panik dapat memicu respons fisik, termasuk sensasi menggigil atau merinding.
- Gejala putus zat (withdrawal): Penghentian penggunaan zat tertentu dapat menimbulkan berbagai gejala fisik, termasuk menggigil.
- Kejang: Pada kasus tertentu, merinding dapat muncul menjelang atau selama kejang, terutama pada orang dengan epilepsi lobus temporal kiri.
- Autonomic dysreflexia: Reaksi berlebihan sistem saraf otonom yang dapat terjadi setelah cedera sumsum tulang belakang. Kondisi ini bisa disertai peningkatan tekanan darah secara mendadak dan berat.
Karena itu, meskipun merinding umumnya merupakan respons alami terhadap suhu dingin maupun emosi, kemunculannya yang menetap atau berulang tanpa pemicu yang diketahui sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.