Fakta Obat Diabetes: Benarkah Konsumsi Jangka Panjang Bisa Merusak Ginjal?

Benarkah obat diabetes merusak ginjal jika dikonsumsi jangka panjang? Simak penjelasan dokter berikut.

Diterbitkan 04 November 2026, 07:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kekhawatiran bahwa konsumsi obat diabetes dalam jangka panjang dapat merusak ginjal masih membuat sebagian orang ragu menjalani pengobatan secara rutin. Padahal, menurut Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia Ardi, M.Gizi, AIFO-K, menghentikan atau tidak mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter justru dapat membuat kadar gula darah tidak terkontrol dan meningkatkan risiko komplikasi.

Lebih lanjut Laurencia menjelaskan bahwa obat diabetes tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Penggunaannya harus berdasarkan diagnosis dokter dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Sebelum memberikan obat, dokter perlu memastikan seseorang benar-benar mengalami diabetes melalui pemeriksaan laboratorium. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain gula darah sewaktu, gula darah dua jam setelah makan, serta HbA1c.

Hasil pemeriksaan tersebut menjadi salah satu dasar bagi dokter untuk menentukan penanganan yang tepat, termasuk kebutuhan obat dan dosisnya.

"Obat diabetes itu tidak bisa dibeli atau digunakan sembarangan. Harus berdasarkan diagnosis dokter melalui pemeriksaan yang tepat," kata Laurencia.

Salah satu kekhawatiran yang kerap muncul adalah anggapan bahwa konsumsi obat diabetes secara terus-menerus dapat merusak ginjal. Akibatnya, sebagian pasien memilih mengurangi dosis atau bahkan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Apakah obat diabetes merusak ginjal? Menurut Laurencia, pasien perlu memahami bahwa diabetes yang tidak terkontrol juga dapat berdampak pada kesehatan ginjal. Ketika kadar gula darah terus berada di atas batas yang dianjurkan, risiko komplikasi dapat meningkat.

Oleh sebab itu, ketakutan terhadap konsumsi obat dalam jangka panjang sebaiknya tidak menjadi alasan untuk menghentikan pengobatan secara mandiri.

Dia mengingatkan bahwa pasien diabetes perlu mengonsumsi obat secara rutin sesuai dosis dan rekomendasi dokter. Jika muncul kekhawatiran mengenai efek samping atau kondisi kesehatan tertentu, pasien sebaiknya berkonsultasi agar dokter dapat melakukan evaluasi.

"Kalau obat diabetes tidak diminum dengan benar dan gula darahnya tidak terkontrol, ginjal juga bisa mengalami kerusakan," ujar Laurencia.

Dengan demikian, pengobatan diabetes perlu dijalankan secara konsisten dan tetap berada dalam pengawasan tenaga medis. Pasien juga tidak disarankan mengganti obat atau mengubah dosis hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari orang lain.

 

Minum Obat Saja Tidak Cukup

Selain kepatuhan mengonsumsi obat, pengendalian diabetes juga membutuhkan perubahan pola hidup. Laurencia menjelaskan bahwa obat bukan satu-satunya hal yang menentukan keberhasilan pengelolaan kadar gula darah.

Pengaturan pola makan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Pasien perlu memahami jumlah, jenis, dan waktu konsumsi makanan agar asupan nutrisi tetap seimbang dan kadar gula darah lebih terkendali.

Hal ini juga dapat menjelaskan mengapa sebagian pasien masih memiliki kadar gula darah tinggi meskipun sudah rutin minum obat. Pola makan yang belum teratur dan pemilihan makanan yang kurang tepat dapat ikut memengaruhi kondisi tersebut.

Oleh sebab itu, kata dia, pasien perlu menjalankan pengobatan sekaligus memperbaiki kebiasaan makan dan menerapkan pola hidup sehat.