Gen Z Gemar Ngopi Susu Sambil Nongkrong Berjam-Jam, Waspadai Risiko Ini

Gen Z gemar ngopi susu sambil nongkrong berjam-jam? Kenali risiko diabetes akibat konsumsi gula berlebih.

Diterbitkan 04 November 2026, 06:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nongkrong sambil menikmati kopi susu sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian Gen Z. Tidak sedikit anak muda menghabiskan waktu berjam-jam di kedai kopi untuk mengerjakan tugas, bekerja, atau sekadar berkumpul bersama teman.

Namun, kebiasaan ini perlu diimbangi dengan pola hidup sehat. Terlebih, jika nongkrong disertai konsumsi minuman manis berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes melitus.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengingatkan bahwa konsumsi minuman manis di Indonesia terus menjadi perhatian. Tren tersebut terlihat dari semakin banyaknya kedai kopi dan gerai minuman kekinian.

"Indonesia itu konsumsi sweets, jadi minuman manis dalam kemasan, apa pun minuman siap saji itu jadi tren," ujar Nadia dalam diskusi media bersama Kalbe pada Selasa, 3 November 2026.

Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi minuman manis perlu diperhatikan, terutama oleh generasi muda. Sebab, konsumsi gula berlebihan secara terus-menerus dapat membuat seseorang semakin terbiasa dengan rasa manis.

Kebiasaan Minum Manis Perlu Dibatasi

Nadia menjelaskan bahwa seseorang yang terbiasa mengonsumsi minuman manis bisa merasa kurang puas ketika takaran gula dalam minumannya dikurangi.

"Kalau hari ini minum satu sendok, besok kalau dikasih setengah sendok nangis, ya? Enggak mempan. Rasa manisnya terus akan naik," tambahnya.

Oleh sebab itu, edukasi mengenai konsumsi gula perlu dimulai sejak usia muda. Masyarakat juga perlu membiasakan diri memperhatikan kandungan gula dalam minuman yang dibeli.

Kementerian Kesehatan mendorong penerapan pelabelan dengan kategori warna merah, kuning, dan hijau untuk membantu konsumen mengenali kandungan gula dalam produk minuman.

Dengan informasi tersebut, masyarakat diharapkan lebih mudah menentukan pilihan sebelum membeli minuman.

Diabetes Bisa Merusak Berbagai Organ Tubuh

Selain konsumsi gula berlebihan, kurangnya aktivitas fisik juga perlu diwaspadai. Kebiasaan duduk berjam-jam saat bekerja, mengerjakan tugas, atau nongkrong sebaiknya diimbangi dengan aktivitas bergerak secara rutin.

Nadia mengingatkan, diabetes bukan sekadar masalah kadar gula darah. Jika tidak dikendalikan, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi yang menyerang berbagai organ tubuh.

Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil atau mikrovaskular. Kondisi ini bisa berdampak pada mata, ginjal, hingga kaki.

"Makanya, kalau sakit DM, orang bisa rabun atau buta yang kita kenal dengan diabetes retinal. Kemudian, yang paling gampang, orang DM bisa buntung kakinya," kata Nadia.

Diabetes yang tidak terkontrol juga dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa diabetes bukan penyakit yang bisa dianggap sepele.

Gen Z Perlu Rutin Periksa Kesehatan

Nadia turut mengingatkan bahwa usia muda bukan jaminan seseorang terbebas dari diabetes, hipertensi, maupun kolesterol tinggi.

Ia menyoroti kebiasaan anak muda yang antusias mengikuti kegiatan olahraga, seperti fun walk, fun run, hingga lomba lari 5K dan 10K. Namun, kebiasaan berolahraga tersebut belum tentu diikuti pemeriksaan kesehatan secara rutin.

"Gen Z masih muda, masih sehat, masih bisa lari 10K. Padahal sebenarnya kita berharap minimal hipertensi, gula darah, lipid itu diperiksa," ujarnya.

Untuk itu, Nadia mengajak masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) guna mengetahui kondisi kesehatan sejak dini.

Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan profil lipid penting dilakukan untuk mendeteksi faktor risiko penyakit tidak menular.

Â