Stres Melanda, Kenapa Ingin Makan Terus?

Perilaku makan seseorang tidak hanya dipengaruhi rasa lapar dan kenyang, tetapi juga hormon, zat kimia di otak, serta kondisi emosional.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 06 November 2026, 07:30 WIB
Ada peranan otak yang memengaruhi rasa lapar dan perilaku makan seseorang. (dok. benzoix/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Menurunkan berat badan sering kali dikaitkan dengan anjuran mengurangi porsi makan dan memperbanyak aktivitas fisik. Namun, perilaku makan seseorang ternyata tidak sesederhana persoalan kemauan, tetapi ada peranan otak.

Otak memiliki peran penting dalam mengatur rasa lapar, kenyang, hingga dorongan untuk terus makan meskipun tubuh sebenarnya sudah merasa cukup.

Menurut penuturan dokter spesialis kedokteran jiwa, Putri Nugraheni, perilaku makan dipengaruhi oleh hormon yang membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang. Hormon-hormon tersebut memberi sinyal kepada tubuh kapan seseorang perlu makan dan kapan harus berhenti.

“Ada hormon-hormon tertentu yang dihasilkan oleh otak yang mengatur rasa lapar, rasa kenyang, kalau lapar jadi ada keinginan untuk makan, kalau kenyang ada keinginan untuk stop makan,” ujarnya di sela sesi talkshow oleh Novo Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Namun, kerja hormon tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan dan penggunaan obat-obatan tertentu.

Pada orang dengan kondisi kesehatan mental yang mengonsumsi obat psikiatri tertentu, misalnya, fungsi dan kadar hormon terkait dapat berubah. Akibatnya, seseorang mungkin lebih mudah merasa lapar atau lebih sulit mencapai rasa kenyang.

Selain hormon, zat kimia di otak atau neurotransmiter juga berperan dalam mendorong seseorang untuk makan. Menurut Putri, ketika seseorang mengalami stres atau sedang menghadapi hari yang buruk, zat kimia seperti dopamin dan opioid dapat terlibat dalam mekanisme pencarian rasa nyaman atau penghargaan (reward).

“Kita lagi dapat hari buruk atau stres gitu, misalnya, neurotransmitter atau zat-zat kimia di otak kita, terutama itu ada dopamin, opioid, itu akan mencari sensasi reward dengan cara makan,” kata Putri.

Kondisi ini dapat mendorong seseorang makan bukan semata-mata karena lapar, melainkan untuk mendapatkan sensasi menyenangkan. Perilaku tersebut dinilai Putri sebagai hedonic eating, yakni makan untuk memperoleh kepuasan atau kesenangan.

Perilaku Makan Tak Cukup Hanya Mengandalkan Motivasi

(Foto: Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Di sisi lain, perilaku makan juga dipengaruhi motivasi. Namun, menganggap obesitas hanya berkaitan dengan kurangnya motivasi dapat menyederhanakan persoalan yang sebenarnya lebih kompleks.

“Kalau kita hanya membicarakan kamu kurang motivasi, itu kita baru membicarakan sepertiga dari problem sebenarnya,” tutur Putri.

Hal serupa berlaku pada anjuran eat less, move more atau mengurangi makan dan memperbanyak gerak. Menurutnya, pendekatan tersebut baru mencakup sebagian dari upaya penanganan obesitas.

Penanganan yang lebih menyeluruh perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari pengaturan hormon yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang, mekanisme zat kimia di otak yang memengaruhi dorongan mencari makanan, hingga intervensi terhadap perilaku makan.

“Kalau kita hanya bilang eat less, move more, baru membicarakan sepertiga dari solusi sebenarnya. Solusi yang lengkap ya mencakup semua tadi, soal mengubah hormon, neurotransmitter di otak, perilaku mencari makan untuk rewarding, jadi lengkap,” pungkas Putri.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya