Menteri Wihaji: Jangan Biarkan AI Gantikan Peran Ayah dan Ibu

Kini makin banyak remaja curhat ke AI daripada ayah dan ibu.

Diterbitkan 06 November 2026, 06:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/BKKBN, Wihaji, mengingatkan para orang tua di Indonesia agar tidak membiarkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan gawai (smartphone) mengambil alih peran pengasuhan keluarga.

"Rata-rata mereka melihat gawai 8 sampai 10 jam per hari. Dan itu sekarang jadi orang tua-nya remaja bapak/ibu. Orang tuanya remaja sekarang adalah gawai dan AI," kata Wihaji dalam GENTING Collaboration Summit 2026 di Jakarta pada Kamis (5/11/2026).

Menurut Wihaji, kesibukan orang tua membuat komunikasi dengan anak berkurang. Hal ini berisiko membuat remaja lebih nyaman berinteraksi dan mencari figur pendengar pada teknologi digital.

"Karena orang tuanya terlalu sibuk nyari rezeki, keluarga anak itu sekarang gawai. Mau tanya apa saja daripada ngomong sama bapak kadang enggak dijawab, WA sama ibu kadang sibuk, ya sudah WA sama AI saja. Mau nanya apa di situ lengkap semua, mau tentang apa saja lengkap," ungkapnya.

Meski demikian, Wihaji menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak anti terhadap perkembangan teknologi dan inovasi digital. Namun, ia mengingatkan ada batasan hakiki yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh algoritma komputer, yaitu sentuhan empati dan kasih sayang.

"Cuma hati-hati satu saja. Saya tidak anti-AI, kita pecinta teknologi itu. Tapi AI enggak punya hati. Hati-hati, jangan sampai generasi kita ke depan kurang tentang itu (empati dan sentuhan batin)," tegas Wihaji.

Di kesempatan itu, Wihaji juga  memaparkan data yang memprihatinkan terkait kondisi psikologis generasi muda. Saat ini, Indonesia tercatat memiliki sekitar 66 juta remaja. Dari jumlah tersebut, sebanyak 34,9% dilaporkan mengalami gangguan kesehatan mental. Maka dari itu, kehadiran orangtua dan keluarga amat penting untuk remaja. 

Â