Risiko Tersembunyi di Balik Makan All You Can Eat

Suka makan all you can eat? Dokter membagikan risiko tersembunyi yang sering tak disadari.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Makan di restoran all you can eat (AYCE) menjadi pilihan banyak orang untuk menikmati aneka hidangan sepuasnya. Dengan membayar satu harga, pelanggan bebas menikmati berbagai jenis daging dan menu lainnya sepuasnya.

Bagi sebagian orang, AYCE bahkan memiliki alasan tersendiri. David (37), misalnya, yang dijuluki gym bro, mengaku bisa menggelontorkan Rp 500 ribu rupiah untuk sekali makan di restoran all you can eat. 

Dia bahkan bisa melakukannya hingga tiga kali dalam sebulan. "Apalagi kalau mau race lari. Kebetulan aku juga lari. Itu bisa gila-gilaan lagi. Kalau orang-orang carbo loading, kalau aku lebih ke penuhi asupan protein biar enggak cedera saat lari," katanya dalam obrolan bersama Kesehatan Liputan6.com dalam sebuah kesempatan.

Berbeda dengan David, Eka (34) justru menjadikan restoran all you can eat sebagai tempat untuk menikmati waktu sendiri. "Aneh banget emang," katanya sambil tertawa.

Jika David lebih mengincar daging sapi, Eka memilih restoran all you can eat yang menyediakan lidah sapi sepuasnya. Keduanya mengaku menikmati pengalaman makan tersebut, meski menyadari bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan dalam jumlah besar bukanlah kebiasaan yang baik.

Ya, di balik konsep makan tanpa batas tersebut, terdapat sejumlah risiko kesehatan yang sering kali tidak disadari. Dokter Revan Satrio dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta mengingatkan bahwa kebiasaan makan berlebihan di restoran all you can eat dapat meningkatkan asupan garam, lemak, dan gula dalam jumlah besar.

Dalam artikel yang dipublikasikan di situs Kementerian Kesehatan pada 2023, Revan menjelaskan bahwa rasa makanan yang lezat ditambah adanya batas waktu makan sering membuat pelanggan terdorong untuk mengambil daging sebanyak mungkin agar merasa tidak rugi.

"Rasanya yang nikmat dan tantangan waktu membuat pelanggan biasanya tidak mau rugi dengan memakan daging sebanyak-banyaknya sehingga secara tidak sadar sangat banyak memakan daging panggang tersebut," tulis Revan dikutip Sabtu (18/7/2026)

Menurutnya, daging yang telah dimarinasi umumnya mengandung garam dalam jumlah tinggi. Ditambah saus cocolan, total asupan natrium berpotensi melebihi batas konsumsi harian yang direkomendasikan, yakni sekitar 2.300 miligram per hari. Konsumsi garam berlebih diketahui dapat meningkatkan tekanan darah.

Tak hanya itu, kandungan lemak pada daging juga dapat meningkatkan risiko terbentuknya plak di pembuluh darah. Sementara makanan penutup yang tinggi gula, jika dikonsumsi berlebihan, berpotensi meningkatkan risiko diabetes melitus.

Oleh sebab itu, Revan mengimbau masyarakat untuk tetap mengontrol porsi makan meski berada di restoran all you can eat. Dia juga menyarankan membatasi konsumsi garam, mengurangi makanan tinggi lemak dan gula, serta rutin beraktivitas fisik untuk menjaga kesehatan jantung.

Penelitian Ungkap Cara Agar Tidak Kalap

Risiko makan all you can eat sebenarnya dapat dikurangi dengan perubahan perilaku sederhana. Hal ini diungkapkan Brian Wansink, pakar mindful eating dari Cornell University.

Bersama rekannya, Mitsuru Shimizu, Wansink mengamati lebih dari 300 pengunjung di sekitar dua lusin restoran China berkonsep all you can eat. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine edisi April 2013.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang lebih dulu berkeliling untuk melihat seluruh pilihan makanan sebelum mengambilnya cenderung makan lebih sedikit. Hal serupa juga ditemukan pada pengunjung yang menggunakan piring berukuran kecil dibandingkan piring besar.

Perubahan sederhana tersebut membuat seseorang lebih sadar terhadap pilihan makanan dan mengurangi keinginan untuk bolak-balik mengambil makanan.

Perilaku Ternyata Sangat Berpengaruh

Direktur Departemen Nutrisi Brigham and Women's Hospital yang berafiliasi dengan Harvard, Kathy McManus, mengatakan banyak orang tidak menyadari bahwa perilaku sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap jumlah makanan yang dikonsumsi.

"Sebagian besar orang tidak menyadari bahwa banyak faktor dapat memengaruhi apa yang mereka makan dan berapa banyak yang mereka konsumsi," ujar McManus.

Menurut McManus, emosi, orang di sekitar, lingkungan, hingga aktivitas tertentu dapat memicu seseorang makan lebih banyak tanpa disadari. Kondisi seperti ini dikenal sebagai mindless eating atau makan tanpa kesadaran penuh.

Dia menilai cara sederhana, seperti melihat seluruh pilihan makanan terlebih dahulu sebelum mengambilnya, dapat membantu seseorang lebih mampu mengendalikan porsi makan.

Dengan kata lain, menikmati restoran all you can eat bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Namun, menjaga porsi makan dan lebih sadar terhadap pilihan makanan tetap menjadi kunci agar pengalaman makan tetap menyenangkan tanpa mengorbankan kesehatan.