Madu Tak Cocok untuk Semua Orang, Dokter Jelaskan Alasannya

Madu bisa berdampak buruk bagi sebagian orang. Cari tahu siapa yang perlu berhati-hati.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meskipun madu sering dianggap lebih sehat dan bergizi dibandingkan gula, tidak semua orang aman mengonsumsinya. Kepala Departemen Dietetik Rumah Sakit 19-8 Vietnam, Dr. Le Thi Houng Giang, dalam tulisannya yang dimuat di situs Suckhoedoisong pada 15 Juli 2026, mengingatkan bahwa ada beberapa kelompok yang sebaiknya berhati-hati.

Salah satunya adalah bayi berumur di bawah 1 tahun. Menurut Giang, madu tidak boleh diberikan kepada bayi karena sistem pencernaan mereka belum berkembang sempurna dan belum mampu melawan spora bakteri. Madu dapat mengandung spora Clostridium botulinum yang berisiko menyebabkan botulisme, kondisi serius yang dapat mengancam jiwa.

Pengidap diabetes atau pradiabetes juga perlu membatasi konsumsi madu. Meski dianggap lebih baik daripada gula rafinasi, madu tetap mengandung glukosa dan fruktosa dalam jumlah tinggi yang dapat memicu lonjakan kadar gula darah. Oleh sebab itu, konsumsi madu harus dikontrol dan tidak dilakukan secara berlebihan.

Hal yang sama berlaku bagi orang dengan obesitas atau dislipidemia. Kandungan gula dalam madu berpotensi menyebabkan hiperglikemia sehingga dapat memperburuk kondisi kesehatan bila dikonsumsi tanpa memperhatikan porsinya.

Di sisi lain, madu tetap memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan jika dikonsumsi secara bijak. Dalam 100 gram madu terkandung sekitar 300–320 kkal, sekitar 80 persen karbohidrat, dan 31 persen glukosa. Madu hanya mengandung sedikit protein, vitamin, dan mineral, tetapi sejumlah penelitian menunjukkan beberapa manfaat, antara lain:

  • Membantu meredakan batuk ringan pada anak di atas 1 tahun dan orang dewasa berkat teksturnya yang kental serta kandungan polifenol yang dapat menenangkan selaput lendir.
  • Menjadi sumber energi cepat karena kandungan fruktosa dan glukosa yang mudah diserap tubuh.
  • Memiliki sifat antibakteri ringan berkat pH yang rendah dan kandungan hidrogen peroksida alami, sehingga dapat membantu proses penyembuhan luka kecil.

 

Makanan dan Minuman yang Cocok Dicampur Madu

Selain itu, Giang juga mengingatkan bahwa madu tidak selalu cocok dikombinasikan dengan makanan tertentu. Menurutnya, madu sebaiknya tidak dikonsumsi bersama tahu atau susu kedelai karena kombinasi mineral dan asam organik dalam madu dengan protein pada kedua bahan tersebut dapat memicu gangguan pencernaan seperti kembung, diare, atau rasa tidak nyaman di perut.

Dia juga tidak menyarankan penggunaan madu bersama daun bawang sebagai obat batuk tradisional. Menurut Giang, kombinasi kandungan vitamin C dalam daun bawang dengan asam organik pada madu dapat mengurangi manfaatnya sekaligus berpotensi mengiritasi lambung hingga menyebabkan muntah.