Liputan6.com, Jakarta - Diet ketogenik atau diet keto dapat memberikan manfaat metabolik yang lebih besar bagi orang dengan obesitas dibandingkan diet Mediterania dan diet rendah lemak. Dalam penelitian terbaru, pola makan rendah karbohidrat dan tinggi lemak ini bahkan membantu sekitar setengah peserta dengan prediabetes keluar dari kondisi tersebut setelah menjalani diet selama empat hingga lima bulan.
Temuan ini berasal dari uji klinis yang dilakukan peneliti Washington University School of Medicine di St. Louis dan diterbitkan dalam jurnal Cell Metabolism pada 27 Agustus 2026.
Penelitian melibatkan 42 orang dengan obesitas, prediabetes, dan perlemakan hati. Peserta dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok, yakni diet keto, diet Mediterania, dan diet rendah lemak berbasis makanan nabati.
Advertisement
Seluruh peserta diarahkan untuk menurunkan berat badan sekitar 10 persen. Asupan kalori disesuaikan secara individual agar target penurunan berat badan setiap kelompok relatif sama.
Diet Keto Pangkas Lemak Hati Lebih Banyak
Setelah sekitar empat hingga lima bulan, seluruh kelompok mengalami penurunan berat badan dan peningkatan sensitivitas insulin. Artinya, tubuh menjadi lebih efektif dalam menggunakan insulin untuk mengendalikan kadar gula darah.
Namun, perubahan paling besar terlihat pada kelompok yang menjalani diet keto.
Peserta dalam kelompok ini mengalami penurunan lemak hati rata-rata 67 persen. Sementara itu, lemak hati pada kelompok diet Mediterania dan diet rendah lemak berbasis makanan nabati masing-masing turun sekitar 45 persen.
Diet keto dalam penelitian tersebut hanya menyediakan sekitar 4 persen kalori dari karbohidrat dan 73 persen dari lemak. Sebagai perbandingan, diet Mediterania terdiri dari 50 persen karbohidrat dan 35 persen lemak, sedangkan diet rendah lemak berbasis makanan nabati mengandung 70 persen karbohidrat dan 15 persen lemak.
Peneliti juga menemukan perubahan metabolisme yang lebih besar pada kelompok keto, termasuk peningkatan hormon glukagon dan penurunan kadar insulin dalam darah. Kedua perubahan tersebut dapat membantu tubuh mengurangi lemak yang tersimpan di hati.
Samuel Klein, penulis senior penelitian dari Washington University School of Medicine, mengatakan penurunan berat badan memang dapat memperbaiki kesehatan metabolik. Namun, pengurangan konsumsi karbohidrat tampaknya memberikan manfaat tambahan.
"Jika Anda memiliki kadar lemak hati yang tinggi dan prediabetes, mengurangi asupan karbohidrat dapat memberikan efek terapeutik penting terhadap metabolisme, di luar manfaat penurunan berat badan saja," kata Klein, dikutip dari sciencedaily pada Senin, 31 Agustus 2026.
Â
Separuh Peserta Tak Lagi Prediabetes
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/5141782/original/020810500_1740383769-WhatsApp_Image_2025-02-24_at_14.47.59.jpeg)
Manfaat diet keto juga terlihat dari perubahan kondisi prediabetes peserta. Setelah menjalani intervensi selama sekitar empat hingga lima bulan, 50 persen peserta kelompok diet keto tidak lagi memenuhi kriteria prediabetes.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok diet Mediterania, yakni 29 persen, dan kelompok diet rendah lemak berbasis makanan nabati yang hanya mencapai 7 persen.
Penulis pertama penelitian, Max Petersen, mengatakan, hasil tersebut menunjukkan bahwa komposisi makanan dapat memberikan manfaat tambahan selain penurunan berat badan.
"Temuan yang paling mengejutkan adalah peserta dalam kelompok diet ketogenik tidak mengalami peningkatan kadar lemak atau kolesterol dalam darah meskipun mengonsumsi lemak paling banyak," ujar Petersen.
Meski hasil penelitian menunjukkan manfaat yang menjanjikan, diet keto tidak otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua orang. Penelitian ini dilakukan pada kelompok tertentu dan berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Karena itu, orang dengan prediabetes atau obesitas sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum menjalani diet keto, terutama karena pola makan ini membatasi karbohidrat secara ketat.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336194/original/011453800_1788145793-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-31T100906.764.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481050/original/073182400_1769075263-Gubernur_Jawa_Barat_Dedi_Mulyadi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/5103911/original/019441200_1737500040-WhatsApp_Image_2025-01-22_at_05.31.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4851451/original/093831900_1717406533-IMG_2681.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4674701/original/011564700_1701764451-elisa-ventur-bmJAXAz6ads-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309677/original/003472500_1785236286-qamma-farm-n4NsmG1DixA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1535977/original/085652500_1489468222-Nyeri-Sendi-pada-Lutut-Belum-Tentu-Asam-Urat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2878991/original/058515000_1565573490-WhatsApp_Image_2019-08-11_at_12.15.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4011390/original/054314000_1651237378-drew-hays-tGYrlchfObE-unsplash.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336127/original/023645400_1788138448-WhatsApp_Image_2026-08-31_at_8.05.22_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336116/original/035448100_1788133757-55492503297_7362144cec_c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335317/original/034355800_1787969800-20260828_153842.jpg)