Pakar Ingatkan Ancaman Tak Terduga di Balik Pemadaman Listrik

Di balik pemadaman listrik, ada ancaman kesehatan keluarga yang sering luput disadari.

Diterbitkan 27 Juni 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua dan Pendiri Lembaga Riset Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan, pemadaman listrik bergilir yang terjadi belakangan ini tidak hanya berdampak pada terganggunya internet, AC, atau aktivitas kerja. Menurutnya, risiko terbesar justru sering kali luput dari perhatian, yakni ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan keluarga.

Saat listrik padam selama berjam-jam hingga berhari-hari, kata Ray, yang diuji bukan hanya ketahanan jaringan listrik tapi juga kesiapan keluarga menghadapi situasi darurat. Risiko yang dapat muncul antara lain terbatasnya akses air bersih, rusaknya makanan dan obat-obatan yang membutuhkan penyimpanan khusus, terganggunya fungsi alat kesehatan, hingga keterlambatan penanganan medis saat kondisi darurat.

Oleh sebab itu, setiap keluarga perlu memastikan beberapa hal penting, seperti ketersediaan stok obat rutin, cadangan air minum yang cukup untuk beberapa hari, alat komunikasi dan power bank yang siap digunakan, serta rencana darurat jika ada anggota keluarga yang sakit saat listrik padam.

"Kelompok rentan seperti bayi, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis juga harus menjadi prioritas utama," kata Ray.

Ray pun menekankan pentingnya memiliki perlengkapan darurat kesehatan di rumah, antara lain:

  1. Air minum untuk kebutuhan minimal tiga hari.
  2. Obat rutin dan kotak P3K.
  3. Power bank yang terisi penuh.
  4. Senter atau lampu darurat.
  5. Daftar kebutuhan alat kesehatan keluarga.
  6. Kartu BPJS dan identitas penting.
  7. Nomor darurat yang tersimpan secara offline.
  8. Cadangan makanan siap konsumsi.

Dia menyoroti bahwa banyak keluarga sudah menyiapkan lilin saat menghadapi pemadaman listrik tapi masih sedikit yang mempersiapkan obat rutin, air minum, maupun rencana darurat kesehatan.

Padahal, dalam berbagai situasi krisis, masalah kesehatan sering muncul lebih cepat dari yang diperkirakan. "Pada kondisi darurat, keluarga yang paling aman bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling siap," pungkasnya.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by KOLABORASI SEHAT (@hcc.indonesia)