Psikolog: Kecerdasan Emosi Anak Tak Kalah Penting dari IQ

Psikolog menjelaskan mengapa kecerdasan emosi dan sosial anak sama pentingnya dengan IQ sejak dini.

Diterbitkan 29 Juni 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan akademik atau Intelligence Quotient (IQ) selama ini sering dijadikan tolok ukur utama keberhasilan anak. Padahal, kecerdasan emosi atau Emotional Quotient (EQ) dan kecerdasan sosial atau Social Quotient (SQ) memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter serta kesiapan anak menghadapi tantangan di masa depan.

Menurut Psikolog Klinis Anak, Remaja, serta Keluarga, Ayoe Sutomo, M.Psi., Psikolog, dunia yang terus berkembang menuntut anak tidak hanya cerdas secara akademik tapi juga mampu mengelola emosi dan menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.

"Dalam dunia yang penuh tantangan, kelak anak-anak saat dewasa akan dituntut memiliki kecerdasan emosi berupa kemampuan mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri secara sehat. Begitu juga dengan kecerdasan sosial, di mana anak mampu memahami orang lain, berinteraksi secara efektif, dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain," ujar Ayoe.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi anak? Ayoe menjelaskan bahwa perkembangan emosi anak tidak hanya dipengaruhi faktor biologis. Lingkungan keluarga, pola asuh, hingga budaya tempat anak tumbuh juga berperan besar dalam membentuk kemampuan emosionalnya.

Menurutnya, setiap anak lahir dengan karakter yang berbeda. Ada anak yang memiliki temperamen mudah beradaptasi, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

"Ada anak yang memiliki temperamen bawaan mudah (easy child), tapi ada juga yang sulit atau lambat dan membutuhkan adaptasi," katanya.

Lebih lanjut, Ayoe, mengatakan,"Ini semua terkait dengan perkembangan otak di lima tahun pertama kehidupan."

Dia menambahkan bahwa faktor genetik memang memberikan kontribusi terhadap stabilitas emosi anak. Namun, pengaruh tersebut bukan satu-satunya penentu.

"Faktor genetik menyumbang kurang lebih 50 persen pada stabilitas emosi. Namun, pola pelekatan, gaya pengasuhan, stabilitas emosi orang tua, dan kualitas hubungan pernikahan juga ikut memengaruhi perkembangan emosi anak," kata Ayoe pada acara Family's Days Out Roadshow to Bandung yang diselenggarakan Teman Bumil & Parenting.

 

Banyak Orang Tua Masih Memendam Masalah Pengasuhan

 

Temuan di lapangan juga menunjukkan bahwa tidak sedikit orang tua yang membutuhkan pendampingan dalam menjalankan peran mereka. Melissa Luckyanti, M.Psi., Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari lembaga psikologi DFS (d Fun Station) Bandung, mengatakan hal tersebut setelah melayani sesi konsultasi bagi para peserta.

Menurut Melissa, sebagian besar orang tua yang datang berkonsultasi ternyata bukan hanya membahas perkembangan anak tapi juga persoalan yang mereka alami sebagai orang tua.

"Dari begitu banyak yang berkonsultasi, ternyata saya menemukan kalau sebagian besar orang tua, terutama ibu, membutuhkan tempat bicara untuk mengeluarkan isi hati yang selama ini mereka pendam. Selama ini mereka kesulitan untuk bicara dan curhat dengan orang yang tepat," ujar Melissa.

Dia, mengungkapkan, banyak ibu yang mengeluhkan anak mengalami kesulitan bersosialisasi. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang merasa belum mampu menjadi orang tua yang baik karena masih bergulat dengan persoalan mental dan emosional yang belum terselesaikan.

"Ada ibu yang kesulitan dengan kemampuan anak bersosialisasi, lalu banyak juga ibu yang merasa tidak mampu menjadi orang tua yang baik karena mereka sendiri memiliki masalah mental dan emosional yang belum tuntas. Misalnya karena masih ada efek baby blues, atau masalah yang timbul dari hubungan dengan pasangan," tambahnya.

 

Pentingnya Deteksi Dini Kondisi Mental dan Emosi Anak

Dalam kesempatan yang sama, Teman Bumil & Parenting meluncurkan Psikolog Corner, sebuah layanan yang membantu orang tua mengenali kondisi mental dan emosional anak sejak dini melalui fitur skrining berbasis Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) dari Kementerian Kesehatan RI.

Ayoe menilai kehadiran layanan tersebut dapat menjadi langkah awal bagi orang tua untuk mengetahui apakah perkembangan emosional anak sudah sesuai usianya atau membutuhkan perhatian lebih.

"Skrining ini bisa menjadi langkah awal jika ditemukan ada penyimpangan atau sebagian aspek emosi yang belum berkembang, sehingga orang tua bisa melakukan stimulasi dan terapi sejak dini," ujarnya.

Deteksi dini dinilai penting karena semakin cepat masalah perkembangan emosional dikenali, semakin besar peluang anak memperoleh pendampingan yang tepat sehingga tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal.