Kelopak Mata Turun atau Ptosis Tak Cuma Ganggu Penampilan

Selain lansia, orang muda juga bisa mengalami ptosis atau mata mengantuk. Kenali apa itu ptosis dan dampaknya.

Diterbitkan 24 Juli 2026, 19:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Apakah Anda familiar dengan karakter kartun dengan droopy eyes? Umumnya dikenal lain dengan sebutan mata malas (lazy eyes). Kondisi di mana kelopak mata tampak turun, terkulai, bergelambir. Di dunia medis, disebut ptosis, dan bisa berdampak serius pada kesehatan dan fungsi penglihatan.

“Ini adalah kondisi-kondisi umum yang sering kita temui pada pasien kelopak mata. Yang pertama, ptosis, kondisi ketika mata turun atau terkulai,” kata dokter spesialis mata Roy Tan, di Cornerstone Eye Centre, Singapura dalam sesi temu media di Jakarta pada Jumat (24/7/2026).

Dia menjelaskan bahwa banyak pasien kadang tidak menyadari kelopak mata yang kendur sebenarnya menghalangi pandangan mereka.

Tan memaparkan kondisi mata terkulai atau ptosis ini dibagi menjadi tiga jenis:

  • Dermatochalasis
  • Brow Ptosis
  • Lid Ptosis

Kondisi ptosis tidak hanya membuat wajah tampak selalu mengantuk atau lelah, tetapi juga memicu keluhan fisik lainnya. Menurut pemaparan Tan, kelopak mata turun umumnya diikuti gejala berikut:

  • Kesulitan membuka mata.
  • Terkadang mata terasa tegang karena pasien terus berusaha membukanya lebar-lebar.
  • Mengalami sakit kepala, nyeri, serta rasa lelah di sekitar mata, terutama setelah beraktivitas. 
  • Terlalu sering mendongakkan kepala untuk bisa melihat objek di depan karena pandangan terhalang kulit kelopak mata. 

“Selain itu, pada beberapa pasien, kelopak mata bisa turun sangat parah. Mereka harus mendongakkan kepala ke atas untuk melihat.” ujar Tan. 

Selain itu, Tan menuturkan bahwa beberapa pasien mungkin memahami kondisi lewat komentar teman atau kerabat yang mengatakan bahwa mereka tampak lelah sepanjang waktu akibat kelopak mata yang sangat turun.

Meski umumnya identik dengan lansia, dokter subspesialis okuloplasti dan orbita tersebut menegaskan bahwa kasus ptosis kini juga banyak ditemukan pada usia muda.  

Salah satu penyebab utamanya adalah kebiasaan mengucek mata secara kasar serta penggunaan lensa kontak (soft lens) jangka panjang. 

Aktivitas merenggangkan kelopak mata secara terus-menerus saat memasang dan melepas soft lens dapat membuat otot levator melar dan mengendur lebih cepat sebelum waktunya. 

 

Bagaimana Penanganannya?

Bagi kasus ptosis ringan, penggunaan obat tetes mata pelumas dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman secara sementara. Namun, untuk mengembalikan fungsi penglihatan secara permanen, dokter melakukan prosedur pembedahan rekonstruksi kelopak mata sebagai solusi.

"Untuk kasus-kasus di mana kulit mulai kendur dan menutupi mata bahkan hingga tidak terlihat lagi, kita perlu melakukan tindakan bedah. Biasanya, kita bisa menggunakan metode untuk mengangkat kulit yang berlebih." ujar Tan.

Melalui operasi kecil, dokter akan membuang kelebihan kulit atau mengencangkan kembali otot kelopak mata yang melemah. Prosedur ini terbukti dapat membuka kembali penglihatan pasien lebih baik, membebaskan dari rasa pegal di dahi, sekaligus memperbaiki estetika mata.