Alasan Pasien Penyakit Jantung Cari Second Opinion ke Luar Negeri

Masih ada anggapan di masyarakat bahwa pelayanan kesehatan di luar negeri selalu lebih maju dibandingkan Indonesia.

Diterbitkan 24 Juli 2026, 14:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mencari second opinion atau pendapat medis dari dokter lain merupakan hal yang lumrah dilakukan pasien, termasuk yang didiagnosis penyakit jantung. Tak sedikit pula pasien yang memilih mencari second opinion ke luar negeri.

Beragam alasan disampaikan pasien untuk mencari pendapat dokter lain di luar negeri. Bisa karena ragu pada diagnosis awal atau mengikuti saran dari teman atau keluarga lain. 

Terkait masih banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang mencari second opinion sampai luar negeri, Dr dr Susetyo Atmojo, SpJP(K) dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita mengungkapkan beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut. 

"Umumnya pasien melakukan second opinion untuk mencari kebenaran. Tetapi yang sering terjadi sebenarnya mencari pembenaran karena belum siap menerima diagnosis atau masih berada pada fase penolakan (denial)," ujar Susetyo ditemui di Jakarta pada Kamis (23/7/2026).

Selain itu, ada pula pasien yang meragukan tata laksana atau pengobatan yang diberikan di Indonesia. Padahal, menurut pria yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini perkembangan layanan jantung di Tanah Air sudah sangat pesat.

"Dalam hal tata laksana, obat-obatan yang digunakan di luar negeri juga tersedia di Indonesia. Alat kesehatan, termasuk teknologi robotik dan peralatan berstandar internasional, juga sudah tersedia," katanya.

Dua Faktor Lain yang Bikin Pasien Jantung Cari Second Opinion ke Luar Negeri

Faktor ketiga, bisa jadi komunikasi dokter ke pasien memengaruhi keputusan seseorang mencari second opinion bahkan sampai ke luar negeri. Penjelasan yang kurang dipahami pasien terkadang menimbulkan keraguan terhadap diagnosis maupun rencana pengobatan.

"Mungkin sejawat-sejawat kami, yang mungkin kurang komunikatif. Kadangkala itu," tuturnya. 

Alasan lain, masih ada anggapan di masyarakat bahwa pelayanan kesehatan di luar negeri selalu lebih maju dibandingkan Indonesia. Susetyo mengatakan berbagai fasilitas kesehatan di dalam negeri terus berkembang seiring transformasi sistem kesehatan yang dilakukan pemerintah.

Ia mencontohkan, berbagai layanan yang dahulu belum tersedia kini sudah dapat diakses masyarakat, seperti program Cek Kesehatan Gratis maupun pemerataan fasilitas catheterization laboratory (cath lab) di berbagai daerah. Susetyo menilai keputusan untuk mencari second opinion ke luar negeri sebaiknya dipertimbangkan secara matang.

"Untuk melakukan second opinion di luar negeri saat ini perlu dipertimbangkan kembali. Karena di Indonesia saya rasa sudah cukup mumpuni, baik dalam penegakan diagnosis maupun terapi atau tata laksananya," pungkasnya.