Anak Alami Kekerasan Seksual, Kepercayaan Diri Bisa Terganggu

Ada anak yang alami perubahan perilaku tapi ada juga yang tampak biasa tapi alami luka psikologis mendalam karena dapat kekerasan seksual.

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 15:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dampak kekerasan seksual pada anak tidak selalu terlihat dari perubahan perilaku. Setiap anak dapat menunjukkan respons yang berbeda. Ada yang alami perubahan sikap tapi ada juga terlihat baik-baik saja meski mengalami luka psikologis yang mendalam.

“Korban dapat mengalami rasa takut, malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan tidur dan berkonsentrasi. Namun, tidak semua anak memperlihatkan tanda yang sama," kata psikolog, Primatia Yogi Wulandari dari Universitas Airlangga.

Maka dari itu, Primatia mengatakan bahwa tidak bisa hanya melihat dari perilakunya yang terlihat. 

"Karena itu, kita tidak bisa menilai berat atau ringannya dampak hanya dari perilaku yang tampak,” tuturnya mengutip laman Unair. 

Primatia mengatakan kekerasan seksual bisa terjadi di keluarga. Dalam banyak kasus, pelaku justru memanfaatkan relasi kuasa yang dimiliki terhadap korban.

“Dalam perspektif psikologi perkembangan, pelecehan seksual dalam keluarga menjadi hal yang sangat serius karena pelakunya adalah orang terdekat yang seharusnya menjadi sosok pelindung. Ketika kepercayaan itu dikhianati, yang terganggu bukan hanya emosi anak, tetapi juga proses perkembangannya,” ujarnya.

Kekerasan seksual yang terjadi dalam lingkungan keluarga juga dapat memengaruhi kemampuan anak membangun hubungan sosial. Anak dapat mengalami kesulitan mempercayai orang lain, menarik diri dari lingkungan, hingga menghadapi hambatan dalam menjalin relasi ketika memasuki usia remaja.

Meski demikian, dampak tersebut bukan berarti akan menetap sepanjang hidup. Dengan perlindungan dan pendampingan yang tepat, anak memiliki kesempatan untuk memulihkan diri dan kembali berkembang secara optimal.

Ciptakan Ruang Aman bagi Anak

Pencegahan kekerasan seksual pada anak tidak dapat dibebankan kepada anak semata. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman agar anak merasa terlindungi sekaligus nyaman untuk bercerita.

“Yang perlu kita ciptakan bukan hanya anak yang aman secara fisik, tetapi juga anak yang merasa aman untuk bercerita. Ketika anak berani mengungkapkan pengalamannya, respons pertama orang dewasa haruslah mendengarkan, mempercayai, dan melindungi, bukan menyalahkan atau mempertanyakan ceritanya,” pungkasnya.