Tak Cuma ISPA, Ini Dampak Paparan Asap Kebakaran Hutan dan Lahan pada Anak

Anak lebih rentan kena dampak asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lantaran menghirup lebih banyak udara dibandingkan orang dewasa.

Diterbitkan 28 September 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bukan cuma infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dampak dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada anak. Asap yang mengandung partikel halus juga dapat memperburuk sejumlah penyakit pernapasan yang sudah dimiliki anak.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Wahyuni Indawati, SpA, Subsp Respi(K), mengungkapkan selain ISPA, paparan asap karhutla dapat menyebabkan eksaserbasi akut pada asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya. Lalu, ada kelompok tertentu yang lebih kena dampak dari kondisi tersebu. 

"Anak dengan penyakit jantung bawaan, atau dengan riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami perburukan akibat paparan asap. Karena itu, pemantauan ketat dan langkah pencegahan yang tepat sangat diperlukan," kata Wahyuni.

Lebih lanjut, Wahyuni menuturkan bahwa partikel halus PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain. Ini karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi. Paling rentan adalah anak di bawah lima tahun.

"Meta-analisis mencatat setiap kenaikan 10 µg/m3 PM2.5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma," jelas Wahyuni dalam keterangan tertulis.

Cegah Anak dari Bahaya Asap Kebkaran Hutan dan Lahan

Mengingat dampak paparan asap karhutla tidak bisa dianggap remeh, UKK Respirologi IDAI merekomendasikan langkah-langkah pencegahan berikut untuk melindungi anak:

1. Pantau kualitas udara lokal (Air Quality Index/AQI atau Indeks Standar Pencemar Udara/ISPU) secara rutin selama musim kebakaran, meskipun titik api tidak berada di dekat lokasi anak berada, karena asap dapat menyebar hingga ratusan kilometer dari sumbernya.

2. Siapkan ‘ruang bersih’ (clean room) di rumah/ruangan dengan sedikit jendela dan pintu, dilengkapi alat pembersih udara portabel (bukan tipe ozone-generating).

3. Selama kabut asap berlangsung, jaga anak tetap di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup; bila menggunakan AC, atur agar tidak menarik udara segar dari luar (dengan mode closed vent atau air recirculation).

4. Jaga kualitas udara dalam rumah dengan menghindari rokok, kompor gas/kayu bakar, perapian, lilin, semprotan aerosol, memanggang/menggoreng daging, serta menyedot debu (vacuum)—semua ini dapat memperburuk kualitas udara dalam ruangan.

5. Batasi aktivitas fisik berat anak di luar ruangan bila udara terlihat/berbau berasap atau kualitas udara dilaporkan buruk.

6. Jika harus keluar rumah, pakai masker bila anak berusia 2 tahun atau lebih untuk mencegah menghirup partikel asap yang berbahaya, dan pakai kacamata untuk mencegah iritasi asap terhadap mata.

7. Anak dengan asma, alergi, atau kondisi kronis lain berisiko lebih tinggi, pastikan obat rutin (termasuk obat pereda cepat/rescue inhaler) selalu tersedia.

8. Segera cari bantuan medis bila anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan/minum.

"Kami dari UKK Respirologi IDAI mengajak semua pihak—orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah—untuk bersinergi dalam melindungi anak-anak Indonesia dari bahaya asap karhutla. Selain mengikuti tips diatas, pantau kualitas udara secara berkala, dan pastikan anak-anak kita tetap aman dan sehat,” kata Wahyuni.