Asap Karhutla Pekat, Pakar Ingatkan Warga Pantau Kualitas Udara

Kualitas udara jadi patokan saat asap karhutla pekat. Kapan warga sebaiknya tetap di rumah?

Diterbitkan 06 September 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk menjadikan indikator kualitas udara sebagai salah satu acuan sebelum beraktivitas di luar rumah.

Menurut Tjandra, informasi mengenai kualitas udara perlu diperbarui secara berkala agar masyarakat mengetahui tingkat pencemaran udara yang sedang terjadi. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah warga tetap beraktivitas seperti biasa, bekerja, atau sekolah dari rumah.

"Ada penjelasan dari pemerintah ke masyarakat di lokasi itu kadarnya berapa saat ini, sesuai dengan indikator yang ada," ujar Tjandra dikutip dari Antara pada Minggu, 6 September 2026.

Dia, mengatakan, ketika indikator kualitas udara sudah berada pada kategori merah, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut juga dapat menjadi pertimbangan bagi sekolah dan tempat kerja untuk menerapkan kegiatan dari rumah.

"Kalau sudah merah ya jangan keluar rumah, itu pantas untuk sekolah dari rumah, kerja dari rumah," kata Tjandra.

Sementara itu, jika kualitas udara masih berada pada kategori kuning, keputusan untuk tetap beraktivitas di luar rumah perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing, termasuk kualitas udara di dalam ruangan.

"Kalau yang masih kuning ya itu mungkin masih bisa dipertimbangkan tergantung juga apakah sekolahnya punya fasilitas yang cukup baik untuk membuat udara di dalam kelas itu cukup bersih," ujarnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menjelaskan bahwa indikator kualitas udara merupakan salah satu informasi penting yang dianjurkan untuk membantu masyarakat mengetahui kadar polutan dari waktu ke waktu.

Informasi tersebut, kata Tjandra, penting menjadi acuan bagi masyarakat, pengelola sekolah, maupun pemerintah daerah dalam menentukan langkah untuk mengurangi paparan asap karhutla.

Masker N95 Bisa Jadi Pilihan Saat Harus Keluar Rumah

Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah di tengah paparan asap karhutla, Tjandra menyarankan penggunaan masker dengan kualitas sebaik mungkin.

Jenis masker dapat disesuaikan dengan tingkat kepekatan asap dan aktivitas yang dilakukan. Sementara itu, petugas yang terlibat langsung dalam pemadaman kebakaran hutan disarankan menggunakan respirator, bukan sekadar masker kain.

"Jadi anjurannya ya pakai masker sebagus mungkin, kalau bisa N95 lebih bagus," ujar Tjandra.

Dia juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi masuknya udara luar ke dalam rumah ketika kualitas udara di luar sedang buruk. Akses udara dari luar yang memungkinkan asap masuk sebaiknya ditutup.

Penggunaan air purifier juga dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang sudah memilikinya. Namun, Tjandra menekankan bahwa masyarakat tidak perlu buru-buru membeli alat tersebut hanya karena terjadi karhutla.

"Kalau punya air purifier silakan gunakan, tapi bukan artinya semua orang di dalam ruangan mesti beli air purifier sekarang," katanya.

Menurut dia, efektivitas air purifier juga bergantung pada kondisi dan tingkat kepekatan asap. Karena itu, penggunaan alat tersebut tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya cara untuk melindungi diri dari paparan asap karhutla.

Batuk dan Pilek Jangan Diabaikan

Tjandra mengimbau masyarakat di wilayah yang berada dalam kondisi darurat karhutla untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan, seperti batuk dan pilek.

Pemeriksaan terutama penting bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

"Jadi jangan tunggu dua tiga hari karena di sekitar kita menit demi menit kan terisap asap itu. Hari ini ada keluhan hari ini berobat ke fasilitas kesehatan," ujar Tjandra.

Bagi masyarakat yang sudah memiliki penyakit tertentu, seperti asma, ia mengingatkan agar pengobatan disesuaikan dengan kondisi dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila gejala memburuk.

Â