Jantung Bisa Kena Dampak Paparan Abu Vulkanik Anak Krakatau

Paling tidak ada 3 masalah kesehatan akibat paparan abu vulkanik terhadap kesehatan jantung. Pasien jantung koroner mesti lebih waspada.

Diterbitkan 08 September 2026, 11:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Paparan abu vulkanik termasuk dari erupsi Gunung Anak Krakatau bukan cuma berdampak pada saluran pernapasan, mata dan kulit. Paparan abu vulkanik dapat berdampak pada kesehatan jantung dan pembuluh darah melalui beberapa mekanisme.

Bagaimana bisa?

Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K) dari Heartology Cardiovascular Hospital Jakarta mengungkapkan ada beberapa mekanisme dan risiko yang bisa terjadi akibat debu vulkanik terhadap jantung dan pembuluh darah kita.

Pertama, bisa menyebabkan peradangan pada pembuluh darah atau endothelial inflammation. Faris menjelaskan abu vulkanik yang ukurannya sangat kecil itu bisa masuk ke alveoli dapat masuk ke dalam sirkulasi darah dan memicu pelepasan sitokin proinflamasi. Kondisi tersebut kemudian dapat menyebabkan kerusakan membran dan peradangan pada pembuluh darah.

Pada kondisi seperti saat ini, pasien yang punya riwayat penyakit jantung koroner mesti lebih waspada karena ada risiko serangan jantug.

“Pada pasien-pasien yang sudah mengalami penyakit jantung koroner, inflamasi ini juga akan menyebabkan plaque rupture, yaitu sobekan dari plak yang sudah ada. Sehingga akan memicu timbulnya infark miokard atau serangan jantung. Atau kalau aterosklerosisnya terjadi di otak, akan menyebabkan stroke,” jelas Faris dalam 

Ia kemudian merujuk pada beberapa penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kejadian serangan jantung dan stroke setelah erupsi gunung berapi. Salah satunya penelitian yang dilakukan di Hawaii, Amerika Serikat.

Kedua, paparan debu vulkanik juga dapat memicu peningkatan tekanan darah secara short-term. Menurut Faris, inhalasi debu dapat memicu respons saraf simpatis yang kemudian menyebabkan vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah.

“Peningkatan tekanan darah secara sistemik juga akan terpicu karena inhalasi debu ternyata memicu respons saraf simpatis, sehingga pada akhirnya menyebabkan vasokonstriksi dari pembuluh darah dan akan menyebabkan peningkatan tekanan darah,” katanya.

Ketiga, Gangguan Irama Jantung

Dampak lainnya adalah gangguan irama jantung. Faris menjelaskan, kondisi tersebut terkait dengan efek toksik langsung dari partikel ultrafine serta stres fisik akibat gangguan pernapasan akut.

“Dua hal ini akhirnya terjadi gangguan konduksi kelistrikan jantung,” ujarnya.

Karena itu, Faris mengimbau masyarakat mengurangi paparan debu vulkanik, terutama jika tidak memiliki keperluan untuk beraktivitas di luar rumah.

Jika memang terpaksa keluar rumah sebaiknya menggunakan masker yang memiliki filtrasi yang baik.

"Masker yang KN95 karena dia yang bisa mencegah masuknya partikel yang di bawah 2,5 mikrometer,” pungkasnya.