Gejala Influenza A, Tak Cuma Demam

Diantara tipe yang ada influenza A paling banyak menginfeksi manusia. Selain demam ada dua gejala lain yang kerap ditemukan pada pasien.

Diterbitkan 29 September 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat Influenza A(H1N1)pdm09 menjadi subtipe yang paling banyak ditemukan di Indonesia hingga September 2026. Kemudian disusul dengan Influenza A(H3N2) dan Influenza B/Victoria.

Secara umum influenza terbagi atas tiga tipe yakni A, B dan C. Yang paling umum menginfeksi manusia adalah influenza A dan B.

"Kalau ke manusia yakni tipe A dan B, dengan yang dominan adalah H1N1 dan H3N2. Inilah yang terus bersirkulasi di sekitar kita. Nah yang influenza A  ini paling sering, cepat sekali mutasinya," tutur Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof DR Dr Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K).

Gejala seseorang terinfeksi influenza A dan B memiliki kesamaan diantaranya:

  • demam
  • sakit kepala
  • batuk
  • nyeri tenggorokan
  • nyeri badan,
  • kelelahan, serta
  • hidung berair atau tersumbat.

Namun, wanita yang karib disapa Anggi ini mengatakan bahwa tidak mesti semua gejala di atas mesti ada. Kadang ada yang deman dengan muntah lalu diare. 

"Tapi yang biasanya selalu ada itu demam, sakit badan, sakit kepala disertai (gejala) lain-lain, seperti hilang nafsu makan, diare," tutur Anggi dalam sesi bersama IDAI beberapa waktu lalu secara daring.

Untuk memastikan seseorang terinfeksi virus influenza apa maka harus dengan swab RT-PCR. Caranya dengan mengambil selaput lendir di saluran pernapasan biasanya yang ada di hidung. 

"Dicolek aja ditunggu sebentar sudah langsung ada hasilnya," tutur Anggi.

 

 

 

 

Terkadang orangtua ragu kapan anak bisa dirawat di rumah kapan mesti di bawa ke rumah sakit atau dokter saat sakit influenza. Anggi mengatakan orangtua perlu memantau tiga hal yakni aktivitas, intake, output anak untuk menentukan hal tersebut.

1. Perhatikan Aktivitas Anak

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah aktivitas anak. Orangtua biasanya paling mengetahui bagaimana perilaku anak dalam kondisi normal.

“Kalau aktivitas anak beda dari biasanya, bisa karena demam, sakit kepala, bisa karena sakit-sakit badan. Anak bisa ogah diasuh, makan dan minum berkurang, sehingga membuat orangtua khawatir,” jelasnya. 

Perubahan aktivitas tidak selalu berarti anak mengalami kondisi serius. Namun, bila anak tampak jauh lebih lemas atau perilakunya berubah drastis, orangtua perlu lebih waspada untuk membawa ke dokter atau IGD rumah sakit

2. Intake

Intake, yaitu asupan makanan dan minuman. Saat sakit, anak memang dapat mengalami penurunan nafsu makan. Namun, asupan cairan tetap perlu diperhatikan untuk mencegah dehidrasi.

Air putih tetap penting. Namun, Anggi mengingatkan orangtua tidak perlu hanya memberikan air putih ketika anak membutuhkan cairan setelah banyak berkeringat atau mengalami penurunan asupan. Bisa dengan memberikan jus buah, sup, atau air berasa lain yang mengandung gula sebagai asupan elektrolit.

3. Output

Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah output, terutama frekuensi buang air kecil. Orangtua dapat melihat seberapa sering anak buang air kecil. Pada anak yang masih menggunakan popok, kondisi popok juga dapat menjadi petunjuk.

“Kalau masih pakai popok cek empat jam sekali. Kalau kering, segera perbaiki asupan cairan, berikan ia cairan, segera ke dokter,” ujar Anggi.

Penurunan frekuensi buang air kecil dapat menjadi tanda anak kekurangan cairan. Karena itu, orangtua perlu memastikan anak tetap mendapatkan asupan cairan yang cukup selama sakit.

“Segeralah ke IGD bilamana anak sulit dibangunkan, atau justru gelisah seperti biasa, ada kejang, ada napas cepat, tampak kebiruan, ada bleeding, bahkan juga enam jam anak belum kencing,” jelasnya.