Vaksin Campak Disebut Berbahaya untuk Alergi Telur, Ini Fakta Medis dari Dokter Anak

Dokter anak beberkan fakta sebenarnya soal vaksin campak yang disebut berbahaya untuk alergi telur.

Diterbitkan 06 Mei 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis anak, Rodman Tarigan, melihat kontroversi berkepanjangan soal vaksin campak yang dinilai berbahaya bagi pengidap alergi telur.

Dia menjelaskan, kekhawatiran ini muncul lantaran vaksin campak, gondongan, dan rubella (measles, mumps, rubella/MMR) dikembangkan pada fibroblas (sel aktif) embrio ayam yang dikultur. Maka dari itu, sebagian orang khawatir bahwa MMR dapat mengandung protein telur.

Rodman tak memungkiri, awalnya vaksin MMR tidak direkomendasikan untuk anak dengan alergi telur berat. “Tapi, penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa vaksin MMR memiliki catatan keamanan yang sangat baik pada anak-anak dengan alergi telur,” ujar Rodman.

Dengan kata lain, orang tua dengan anak yang mengidap alergi telur tidak perlu khawatir jika anak hendak mendapat vaksin MMR.

Mitos lain yang kerap menyebar di tengah masyarakat adalah vaksinasi dapat membuat anak idap alergi dan autoimun di kemudian hari.

“Tidak ada bukti hubungan antara vaksinasi dengan penyakit alergi, autoimun, atau gangguan pernapasan di kemudian hari,” kata Rodman.

Sebaliknya, vaksin melatih sistem imun untuk mengenali antigen tertentu, tetapi tidak mengubah cara kerjanya.

Sebagian orang juga menganggap bahwa tidak apa-apa jika anak tidak mendapatkan vaksinasi. Mereka beralasan, banyak orang yang tidak diimunisasi di masa lalu tapi tetap bisa hidup sehat.

Padahal, sebelum vaksin campak diperkenalkan, lebih dari 90 persen orang terinfeksi bahkan sebelum usia 10 tahun.

“Hingga 1 dari 1000 kasus campak berakibat fatal. Banyak penyintas mengalami dampak serius dan jangka panjang,” ujarnya.

Mitos Vaksin Mengandung Microchip

Rodman menambahkan, salah satu mitos vaksin yang paling populer di Indonesia adalah soal kandungan microchip. Sebagian menganggap bahwa dengan mendapatkan vaksin, mereka akan bisa dilacak keberadaannya.

“Hal ini secara teknis tidak mungkin dan tidak pernah dilakukan. Vaksin diproduksi dalam kondisi yang sangat terbatas dan terkontrol. Banyak vial vaksin berisi beberapa dosis untuk beberapa orang, sehingga tidak mungkin melacak individu,” katanya.

Tak henti di situ, akibat termakan hoaks, ada pula orang tua yang lebih memilih agar anaknya tertular penyakit secara alami ketimbang vaksinasi.

Padahal, penularan penyakit untuk mendapatkan imunitas jauh lebih berbahaya ketimbang mendapatkan vaksin. Respons imun terhadap vaksin serupa dengan respons terhadap infeksi alami. Bedanya, vaksin menggunakan virus yang dilemahkan sehingga lebih aman digunakan ketimbang sengaja tertular.

Rodman mengatakan, harga yang harus dibayar dari infeksi alami bisa sangat tinggi, seperti:

  • Gangguan kognitif akibat infeksi radang otak
  • Disabilitas lahir akibat infeksi rubella kongenital
  • Kanker hati akibat virus hepatitis B
  • Kematian akibat campak.

Akibat Bias Kognitif

Rodman menambahkan, maraknya hoaks soal vaksin tak lepas dari bias kognitif. Ini adalah kecenderungan sistematis dalam cara seseorang berpikir yang membuat penilaian atau keputusan menjadi tidak sepenuhnya rasional atau objektif.

Dalam vaksinasi, bias ini dapat menyebabkan masyarakat melebih-lebihkan risiko imunisasi dan meremehkan risiko penyakit.

Bias kognitif yang sering ditemukan yakni:

  • Bias Heuristik: Satu kisah mengerikan akan memiliki bobot yang lebih besar dari ribuan laporan keamanan.
  • Bias Konfirmasi: Individu akan mencari laporan yang sesuai dengan keyakinan mereka sebelumnya.
  • Bias Omisi: ketakutan berlebih akan munculnya efek samping vaksin sehingga mengabaikan risiko terjangkit penyakit.
  • Faktor Penolakan: Meremehkan risiko penyakit.
  • Bias Optimistik: Keyakinan "itu tidak akan terjadi padaku".
  • Bias Natural: Preferensi akan hal-hal yang bersifat "alami".

“Untuk itu, diperlukan komunikasi dengan pendekatan yang personal dalam edukasi orang tua,” pungkasnya.