5 Hal yang Sebaiknya Dihindari Usai Bertengkar dengan Pasangan

Bertengkar dengan pasangan merupakan bagian dari dinamika berhubungan. Lakukan ini agar hubungan tetap kokoh.

Liputan6.com, Jakarta - Tidak ada pasangan yang bebas dari adu argumen. Yang membedakan hubungan yang awet dengan yang rapuh ternyata bukan seberapa sering bertengkar, melainkan apa yang terjadi sesudahnya.

Psikolog John Gottman mengatakan pasangan yang bahagia bertengkar sama seringnya dengan pasangan yang tidak bahagia, hanya saja cara mereka bertengkar berbeda. Bahkan, ada atau tidaknya upaya perbaikan (repair attempt) yang berhasil saat konflik disebut sebagai penentu terkuat kepuasan dan kestabilan hubungan. 

Berikut lima kebiasaan yang kerap menghambat proses berbaikan dengan pasangan mengutip dari Simply Psychology.

1. Memaksa Bicara Saat Emosi Masih Meledak-ledak

Setelah bertengkar, tubuh biasanya masih dalam mode siaga. Denyut jantung dan kortisol meningkat, dan dalam kondisi yang disebut flooding ini, seseorang sulit mencerna informasi baru atau merespons dengan jernih. Membahas masalah pada saat itu sering hanya mengulang pertengkaran. 

Menurut Gottman, lebih baik beristirahat 20 menit agar sistem saraf kembali tenang. Ini bukan melarikan diri, melainkan menyiapkan kondisi agar pembicaraan berikutnya lebih produktif. 

2. Silent Treatment

Jeda dan “mogok bicara” itu berbeda. Gottman menegaskan bahwa jeda yang sehat bukan strategi mundur atau diam yang bersifat menghukum, melainkan agar 'hati dingin'. Selama jeda pun, sebaiknya Anda tidak sibuk memutar ulang kemarahan.

Lebih baik menjadwalkan waktu kembali untuk berbicara. Misalnya, “Aku butuh setengah jam untuk menenangkan diri, nanti kita bicara lagi ya.” 

3. Mengabaikan Ajakan Damai dari Pasangan

Ajakan damai dari pasangan jangan diabaikan. Bila pasangan mengulurkan tangan, sambut, meski perasaan Anda belum sepenuhnya reda. Menerima ajakan damai tidak berarti Anda mengaku kalah.

4. Memakai Momen Baikan untuk Menyerang Lagi

Ketika pembicaraan dimulai lagi, mudah sekali tergoda menyerang pribadi pasangan atau mengungkit kesalahan lama. 

Lebih baik fokus pada satu masalah dan bicarakan perilakunya, bukan karakter pasangan. Ucapkan dengan “aku merasa...” dan hindari “kamu selalu...”.

5. Melewatkan Refleksi Diri

Setelah suasana tenang, ada satu langkah yang sering terlewat: refleksi diri. Setelah bertengkar coba ingat-ingat kembali tentang peran Anda dalam pertengkaran itu. Apakah Anda yang memicu dan memanaskan konflik, serta kebiasaan yang biasanya Anda sesali setelah bertengkar. Pertanyaan ini bisa terasa tidak nyaman, tetapi justru di situlah pelajaran yang bisa dipetik.