Misteri Penularan Hantavirus di Kapal Pesiar Mulai Terkuak, WHO Beberkan Temuan Baru

WHO bongkar perkembangan terbaru Hantavirus di kapal pesiar, ada fakta yang bikin ahli kesehatan cemas.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 09 Mei 2026, 14:00 WIB
Hantavirus di kapal pesiar bikin dunia siaga, WHO ungkap temuan baru soal penyebaran virus mematikan. (Foto oleh AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kasus Hantavirus di kapal pesiar yang menjadi perhatian dunia kini mulai menunjukkan titik terang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali merilis perkembangan terbaru terkait klaster penyakit paru berat (severe respiratory illness) yang dilaporkan pada 2 Mei 2026.

Dalam laporan 'Disease Outbreak News (DONs)' tertanggal 8 Mei 2026, WHO mengungkapkan sejumlah temuan baru terkait penyebaran Hantavirus jenis Andes virus (ANDV) di kapal pesiar tersebut. Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru karena ada dugaan kuat penularan terjadi antarmanusia di atas kapal.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, perkembangan kasus ini menjadi perhatian serius komunitas kesehatan global.

"Per tanggal 8 Mei kemarin sudah ada enam kasus terkonfirmasi secara laboratorium dan semuanya adalah Hantavirus jenis Andes virus sesuai hasil pemeriksaan PCR atau sekuensing," kata Tjandra dalam keterangan yang diterima Kesehatan Liputan6.com pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Selain enam kasus terkonfirmasi, terdapat dua kasus probable sehingga total kasus terkait klaster kapal pesiar mencapai delapan orang.

Yang paling mengkhawatirkan, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Artinya, angka kematian atau case fatality ratio mencapai 38 persen.

"Jadi angka kematiannya hampir 40 persen. Ini tentu cukup tinggi dan mengkhawatirkan," katanya.

Kasus ini semakin kompleks karena penumpang kapal pesiar tersebut kini sudah tersebar ke berbagai negara. WHO mencatat telah dilakukan dua kali penerbangan evakuasi medis dari Cabo Verde menuju Belanda.

Pasien terkait klaster Hantavirus itu kini berada di Johannesburg, Afrika Selatan, Belanda, hingga Zurich, Swiss. Sementara itu, satu pasien sempat dibawa ke Jerman, tetapi hasil PCR dan serologinya negatif sehingga tidak lagi dikategorikan sebagai kasus Hantavirus.

 

Penyebaran Hantavirus Lintas Negara

Hantavirus di kapal pesiar bikin dunia siaga, WHO ungkap temuan baru soal penyebaran virus mematikan. (AP Photo/Misper Apawu)

Penyebaran lintas negara ini membuat investigasi epidemiologi menjadi semakin penting. WHO kini fokus menelusuri bagaimana penularan awal terjadi.

Menurut Tjandra, WHO memiliki hipotesis kerja bahwa pasien pertama atau indeks kasus kemungkinan besar sudah terinfeksi sebelum naik kapal pesiar.

"Kasus pertama nampaknya sangat mungkin terinfeksi Hantavirus sebelum naik ke kapal pesiar melalui paparan lingkungan saat berada di Argentina dan Chile," katanya.

Namun, yang menarik perhatian para ahli adalah dugaan penularan dari manusia ke manusia yang terjadi selama perjalanan kapal pesiar berlangsung.

Dugaan ini didasarkan pada pola munculnya gejala dan kaitannya dengan masa inkubasi Andes virus.

 

Jenis Hantavirus yang Menular

Hantavirus di kapal pesiar bikin dunia siaga, WHO ungkap temuan baru soal penyebaran virus mematikan. (dok. Viktor Forgacs/Unsplash)

Selama ini, sebagian besar jenis Hantavirus diketahui menular dari hewan pengerat ke manusia melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus. Akan tetapi, Andes virus memang dikenal sebagai salah satu jenis Hantavirus yang dalam kondisi tertentu dapat menular antarmanusia.

WHO kini masih melakukan penelitian lanjutan untuk memastikan hipotesis tersebut, termasuk melalui investigasi epidemiologi dan pemeriksaan sekuensing virus.

Di tengah kekhawatiran itu, sempat muncul laporan mengenai seorang pramugari maskapai KLM yang diobservasi karena kontak dengan pasien terkonfirmasi Hantavirus. Namun hasil pemeriksaan laboratorium terbaru menunjukkan hasil negatif.

"Data terakhir menunjukkan hasil pemeriksaan laboratoriumnya negatif Hantavirus," ujarnya.

Meski demikian, pemantauan terhadap kontak erat lain masih terus dilakukan oleh otoritas kesehatan internasional.

Dia juga mengingatkan bahwa terdapat warga negara ASEAN di kapal pesiar tersebut, termasuk dari Filipina dan Singapura.

Oleh sebab itu, kewaspadaan regional tetap diperlukan meskipun hingga kini belum ada laporan penyebaran lebih luas di kawasan Asia Tenggara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya