Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan varian hantavirus yang ada di Indonesia tidak sama dengan kasus di atas kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina.
"Kasus yang terjadi di luar negeri itu varian yang berbeda dengan yang di Indonesia," tutur Budi menegaskan ditemui di Jakarta pada Selasa, 12 Mei 2026.
Advertisement
Budi menerangkan hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus.
Sementara itu, kasus di atas kapal MV Hondius merupakan Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dengan varian Andes virus. Varian virus hanta tersebut banyak beredar di negara-negara di Amerika Selatan seperti Argentina dan Chile.
Lebih lanjut, Budi menerangkan pada tipe HFRS, varian ini menyerang ginjal dengan tingkat kematian sekitar 5-15 persen. Sementara itu, pada varian seperti yang terjadi di MV Hondius, virus menyerang paru dengan angka kematian yang lebih tinggi.
"hantavirus strain yang dari Amerika Selatan itu (HPS) itu menyerang ke paru, fatality rate bisa sampai 50-60 persen," tutur Budi.
Hantavirus Bukan Virus Baru
Budi menerangkan bahwa hantavirus bukanlah virus baru. Virus ini diidentifikasi pertama kali di Sunga Hanta, Korea pada pertengahan 1970-an. Di Indonesia sendiri, virus ini tercatat Kemenkes ada pada 1991.
"Tiap tahun ada yang kena. Ada 10-an, kadang di bawah 10 kasus, kadang bisa mencapai 25 kasus," tutur Budi.
Jika seseorang terinfeksi hantavirus, pasien di Indonesia bisa segera ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. "Rumah sakit-rumah sakit itu udah tahu cara menanganinya," tutur Budi.
Mengenal 2 Tipe Hantavirus
Virus hanta atau hantavirus adalah virus yang dapat ditularkan dari hewan yakni tikus atau celurut ke manusia. Seseorang bisa tertular hantavirus melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urine, air liur, maupun kotorannya.
Faktor risiko utama diantaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.
Seperti disampaikan Budi, bahwa ada dua tipe hantavirus yakni HFRS dan HPS. Berikut perbedaannya:
HFRS
- Gejala: demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, dan ikterik atau jaundice tubuh menguning.
- Case Fatality Rate (Tingkat Kematian Kasus) 5-15 persen dengan masa inkubasi 1-2 minggu.
HPS
- Gejala demam, nyeri badan, malaise (lemas), batuk dan sesak napas.
- Tingkat kematian kasus HPS lebih tinggi daripada HFRS. Angka kematian HPS bisa sampai 60 persen.
- Masa inkubasi 1-8 minggu sementara untuk Andes virus seperti pada kasus di kapal MV Hondius bisa capai 42 hari.