Terapi Kanker Kini Lebih Spesifik, Sesuai Profil Molekuler Pasien

Pada kanker paru maupun payudara, pasien dengan diagnosis yang sama dapat memiliki karakteristik yang berbeda. Sehingga terapi perlu disesuaikan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 05 Juni 2026, 08:00 WIB
Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dokter Eniarti SpKJ

Liputan6.com, Jakarta - RS Kanker Dharmais menerapkan terapi kanker yang lebih presisi atau disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Pendekatan ini dilakukan agar terapi yang diberikan dapat lebih tepat sasaran sehingga memberikan respons yang lebih optimal pada pasien kanker.

"Saat sudah ditemukan (terdeteksi kanker), kami harus memberikan layanan kuratif yang lebih presisi. Jadi, (kanker) bukan untuk ditakuti apalagi (membuat) tidak mau datang ke fasilitas Kesehatan," kata Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dokter Eniarti SpKJ.

Plt Direktur Medik dan Keperawatan RS Kanker Dharmais, dokter Eka Widya Khorinal SpPD KHOM mengatakan pengobatan kanker bisa memiliki respons yang berbeda-beda pada pasien. Ada yang merespons baik terapi, tapi ada juga yang tidak ada perubahan atau mengalami perburukan.

Namun, perkembangan terapi kanker terus dilakukan demi memberikan hasil yang baik kepada pasien. Salah satunya lewat diagnostik presisi untuk bisa mengetahui terapi spesifik pada target. Diharapkan dengan pengobatan yang spesifik maka tidak mengenai sel-sel yang sehat sehingga efek samping lebih rendah dan tujuan target tercapai.

"Dan kalau dilihat dari studi-studinya ternyata semakin presisi, semakin dia sesuai dengan target yang tadi itu hasilnya akan semakin bagus," kata Eka di Gedung Cendana RS Kanker Dharmais Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026.

Untuk memberikan terapi spesifik sesuai genetik kanker pasien, maka perlu dilakukan diagnostik yang presisi. Dalam hal ini RS Kanker Dharmais bekerja sama dengan AstraZeneca dengan penggunaan teknologi Next-Generation Sequencing (NGS) pada penanganan kanker payudara, kanker paru, dan Leukemia Limfositik Kronis atau Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL).

Pendekatan ini memungkinkan identifikasi hingga 45 jenis mutasi gen pada kanker payudara dan kanker paru, serta 23 jenis mutasi gen pada CLL.

"Dengan kemampuan untuk memetakan mutasi dan profil molekuler kanker secara lebih jelas, NGS membantu menerjemahkan kemajuan sains menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat, sehingga pasien dapat diarahkan pada pendekatan terapi inovatif yang sesuai dengan karakteristik penyakitnya,” jelas Medical Director AstraZeneca Indonesia, dokter Feddy.

 

Kanker Payudara Ternyata Bukan Satu Jenis Penyakit yang Seragam

Contohnya pada kanker payudara, ternyata ini bukanlah satu jenis penyakit yang seragam.

Pasien dengan diagnosis yang sama dapat memiliki karakteristik biologis, perjalanan penyakit, dan respons terapi yang berbeda. Maka diperlukan pendekatan NGS untuk bisa mengetahui pengobatan apa yang tepat untuk kondisi kanker tersebut.

"Pada kanker payudara HR+/HER2−, misalnya, pemahaman terhadap biomarker menjadi semakin penting karena dapat memberikan gambaran lebih mendalam mengenai karakteristik molekuler tumor," kata dokter spesialis bedah onkologi Abdul Muhaimin Husein.

Melalui pemeriksaan molekuler yang lebih komprehensif seperti NGS, dokter dapat mengidentifikasi berbagai perubahan pada gen yang berkaitan dengan kanker secara simultan. Dengan data ini keputusan klinis dapat dibuat lebih terinformasi, tepat sesuai dengan karakteristik masing-masing pasien.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya