Liputan6.com, Jakarta - Sakit kepala pada pagi hari serta mual dan muntah sering kali dianggap sebagai keluhan biasa pada anak. Padahal, kedua gejala tersebut bisa menjadi tanda tumor otak yang membutuhkan penanganan segera.
Dokter spesialis bedah saraf, Dr. dr. Andri Anugerah K., Sp.BS(K), M.Kes., Brigadir Jenderal TNI (Purn) menjelaskan bahwa tumor otak adalah pertumbuhan sel abnormal di dalam otak yang dapat bersifat jinak maupun ganas. Pertumbuhan tersebut dapat menekan jaringan otak dan menimbulkan berbagai gejala klinis.
Menurut Andri, orang tua perlu waspada apabila sakit kepala dan muntah terus berulang, semakin berat dalam beberapa minggu, atau tidak membaik meski sudah diberikan obat. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan serius pada otak.
Advertisement
"Orang tua harus waspada ketika menjumpai tanda dan gejala umum seperti sakit kepala pagi hari, mual dan muntah, pandangan kabur, kejang, ada perubahan perilaku dan gangguan keseimbangan, misalnya anak sering jatuh tanpa sebab," kata Andri dalam seminar yang diselenggarakan Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) bersama IWABRI Region 6 Jakarta 1.
Namun, kata Andri, gejala yang harus dicurigai adalah ketika gejala makin berat dalam beberapa minggu, tidak membaik dengan obat biasa, dan ada perubahan belajar dan aktivitas harian.
Selain sakit kepala dan muntah, orang tua juga perlu memperhatikan gejala lain seperti pandangan kabur, kejang, perubahan perilaku, hingga gangguan keseimbangan yang membuat anak sering terjatuh tanpa penyebab yang jelas.
Menurut Andri, apabila gejala tersebut muncul dan terus memburuk, anak sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Dia, menjelaskan, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti MRI atau CT scan untuk mengetahui lokasi tumor. Pada kondisi tertentu, biopsi juga diperlukan guna memastikan jenis tumor melalui pemeriksaan histologi maupun genetik.
Secara global, prevalensi tumor otak pada anak mencapai sekitar 3,6 kasus per 100.000 anak setiap tahun. Di Asia, tercatat sekitar 166.925 kasus baru pada 2020. Bahkan, jurnal Nature (2024) memprediksi jumlah kasus tumor otak pada anak akan meningkat hingga 39 persen pada 2040.
Â
Peluang Kesembuhan Dipengaruhi Jenis Tumor
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/9317475/original/045189200_1786014384-Dokter_spesialis_anak_konsultan_hematologi_onkologi__dr._Catur_Sapariyanto__Sp.A.__Subsp._H.Onk.__K_.jpg)
Dokter spesialis anak konsultan hematologi onkologi, dr. Catur Sapariyanto, Sp.A., Subsp. H.Onk. (K)Â mengatakan bahwa peluang kesembuhan anak sangat dipengaruhi oleh jenis tumor dan seberapa cepat penyakit terdeteksi.
"Tumor otak jenis glioma memiliki angka kesintasan dalam lima tahun paling rendah, hanya 18 persen dibandingkan medulloblastoma atau ependimoma yang masing-masing bisa mencapai 66 persen dan 57 persen," kata Catur.
Catur menambahkan bahwa keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan besar dalam penanganan kanker pada anak di Indonesia.
Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala awal membuat banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Linda Agum Gumelar menyatakan bahwa anak-anak merupakan harapan bangsa yang berhak tumbuh sehat, belajar, bermain, dan meraih cita-citanya.
Oleh sebab itu, kata Linda, menjaga kesehatan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga tapi juga tanggung jawab bersama sebagai bagian dari masyarakat.
Linda mengatakan bahwa kanker pada anak bukanlah penyakit yang mudah dikenali. Banyak gejala awalnya tampak sederhana sehingga sering dianggap sebagai penyakit biasa. Padahal, keterlambatan mengenali tanda-tanda tersebut dapat memengaruhi peluang kesembuhan seorang anak.
"Kabar baiknya, kemajuan ilmu kedokteran telah memberikan harapan yang sangat besar. Banyak anak penyandang kanker dapat sembuh dan kembali menjalani kehidupan yang produktif apabila mendapatkan diagnosis dan pengobatan sedini mungkin. Oleh karena itu, edukasi seperti yang kita lakukan hari ini memiliki makna yang sangat besar," ujar Linda.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317507/original/011159500_1786016808-cek_fakta_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/9317474/original/018327800_1786014384-Dokter_spesialis_bedah_saraf__Dr._dr._Andri_Anugerah_K.__Sp.BS_K___M.Kes.__Brigadir_Jenderal_TNI__Purn_.jpg)