Kenali 6 Jenis Hubungan, Ada yang Diam-Diam Bisa Merusak Diri Sendiri

Simak mana jenis hubungan yang sehat dan mana yang berpotensi merugikan diri sendiri.

Diterbitkan 07 Agustus 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika mendengar kata relationship atau hubungan, banyak orang langsung membayangkan hubungan asmara. Padahal, hubungan antarmanusia memiliki banyak bentuk, mulai dari persahabatan, hubungan keluarga, hingga hubungan di lingkungan kerja. Masing-masing memiliki karakteristik, manfaat, sekaligus tantangan yang berbeda.

Memahami jenis hubungan penting karena kualitas hubungan sosial berpengaruh besar terhadap kesehatan fisik dan mental. Hubungan yang sehat dapat memberikan rasa aman, dukungan emosional, dan meningkatkan kesejahteraan. Sebaliknya, hubungan yang tidak sehat dapat memicu stres berkepanjangan hingga berdampak pada kesehatan.

"Hubungan interpersonal dan dukungan sosial merupakan bagian penting dari kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, memahami jenis hubungan dan cara menjaganya menjadi langkah penting untuk menjaga kesejahteraan diri," tulis Verywell Mind dalam ulasannya.

Berikut enam jenis hubungan yang perlu dikenali.

1. Hubungan Platonis

Hubungan platonis adalah hubungan pertemanan yang dekat tanpa melibatkan unsur romantis maupun seksual. Hubungan ini dibangun atas dasar saling percaya, menghormati, memahami, dan mendukung satu sama lain.

Persahabatan semacam ini bisa terjalin dengan teman sekolah, rekan kerja, atau orang yang ditemui dalam komunitas dan organisasi.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan platonis mampu memberikan dukungan sosial yang membantu menurunkan risiko depresi, kecemasan, bahkan meningkatkan daya tahan tubuh.

Meski demikian, dalam beberapa kasus hubungan platonis dapat berkembang menjadi hubungan romantis.

2. Hubungan Romantis

Hubungan romantis ditandai dengan adanya rasa cinta, ketertarikan, dan komitmen terhadap pasangan.

Psikolog Robert Sternberg menjelaskan bahwa cinta terdiri atas tiga komponen utama, yakni gairah (passion), keintiman (intimacy), dan komitmen (commitment).

"Cinta romantis merupakan perpaduan antara gairah dan keintiman," kata Robert Sternberg melalui teori Triangular Theory of Love.

Hubungan romantis umumnya berkembang melalui tiga tahap, yaitu fase bulan madu (honeymoon), fase konflik ketika mulai mengenal kekurangan pasangan, dan fase komitmen saat hubungan menjadi lebih matang.

3. Hubungan Codependent

Hubungan codependent merupakan hubungan yang tidak seimbang karena salah satu atau kedua pihak terlalu bergantung secara emosional, fisik, maupun mental.

Beberapa tandanya antara lain selalu mengutamakan kebutuhan pasangan, sulit mengatakan tidak, merasa harus menyelamatkan pasangan dari setiap masalah, hingga kehilangan jati diri dalam hubungan.

Kondisi ini tidak hanya terjadi pada pasangan, tetapi juga dapat ditemukan dalam hubungan orang tua dan anak, persahabatan, bahkan hubungan kerja.

4. Hubungan Kasual

Hubungan kasual merupakan hubungan tanpa komitmen jangka panjang atau eksklusivitas. Bentuknya bisa berupa hubungan yang hanya berorientasi pada kedekatan fisik maupun pertemanan dengan manfaat tertentu (friends with benefits).

Meski tidak selalu berujung pada hubungan serius, hubungan kasual tetap membutuhkan komunikasi yang terbuka serta persetujuan dari kedua belah pihak agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

5. Hubungan Terbuka (Open Relationship)

Hubungan terbuka adalah hubungan nonmonogami yang disepakati bersama. Dalam hubungan ini, pasangan memperbolehkan satu sama lain menjalin hubungan seksual atau hubungan romantis dengan orang lain berdasarkan aturan yang telah disepakati.

Model hubungan ini masih sering mendapat stigma di masyarakat. Namun, para ahli menilai hubungan terbuka dapat berjalan dengan baik apabila kedua pihak memiliki komunikasi yang jujur, menetapkan batasan yang jelas, serta saling menghormati kesepakatan yang telah dibuat.

6. Hubungan Toksik

Hubungan toksik menjadi salah satu jenis hubungan yang paling perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan mental maupun fisik.

Hubungan ini biasanya ditandai dengan minimnya dukungan, saling menyalahkan, perilaku mengendalikan pasangan, komunikasi yang buruk, rasa cemburu berlebihan, hingga tindakan gaslighting yang membuat seseorang meragukan dirinya sendiri.

"Hubungan yang toksik dapat membuat seseorang merasa dipermalukan, tidak dipahami, tidak didukung, bahkan mengalami tekanan emosional yang berkepanjangan," tulis Verywell Mind.

Para ahli mengingatkan bahwa hubungan toksik tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat meningkatkan stres kronis yang berdampak pada kesehatan jantung, kesehatan mental, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, jika sebuah hubungan mulai membuat Anda kehilangan rasa aman, harga diri, atau kesehatan mental, tidak ada salahnya menetapkan batasan yang tegas, mencari bantuan profesional, atau mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan tersebut demi menjaga kesejahteraan diri.