Apakah Atap Seng Berbahaya bagi Kesehatan? Simak Faktanya

Apakah atap seng berbahaya bagi kesehatan? Dokter jelaskan fakta, risiko, dan bedanya dengan asbes.

Diterbitkan 02 Agustus 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Apakah atap seng berbahaya bagi kesehatan? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Menurut Profesor sekaligus Guru Besar Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, seng atau zinc itu sendiri bukanlah zat yang bersifat karsinogenik atau penyebab kanker.

Namun, risiko kesehatan dapat muncul dari komponen pelapis pada atap seng, terutama jika atap sudah berkarat dan partikel debunya terlepas lalu terhirup dalam jangka panjang.

"Kalau bicara secara teori, komponen dari seng itu ada yang menyebabkan risiko terjadinya kanker. Jadi itu komponen dari kromnya, pelapisnya. Dari sengnya sendiri atau zinc sendiri itu tidak karsinogenik," kata Agus saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com melalui sambungan telepon baru-baru ini.

Agus menjelaskan bahwa beberapa jenis atap seng menggunakan pelapis yang mengandung krom. Ada jenis krom yang bersifat karsinogenik dan ada pula yang tidak. Oleh sebab itu, apakah seng berbahaya sangat bergantung pada jenis pelapis yang digunakan, kondisi atap, serta besarnya paparan yang terhirup.

Meski demikian, Agus menegaskan hingga kini belum ada data penelitian yang dapat menunjukkan seberapa besar risiko kanker akibat paparan komponen dari atap seng berkarat, terutama di Indonesia.

"Kalau kanker paru, ya bisa, tapi memang risikonya kecil. Kita juga belum punya datanya," ujarnya.

Atap Seng Berkarat Lebih Berisiko

Jika muncul pertanyaan apakah atap seng berbahaya bagi kesehatan, menurut Agus, risiko yang lebih nyata justru berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan.

Saat atap seng mulai berkarat, sebagian partikelnya dapat terlepas menjadi debu dan terhirup. Paparan yang terjadi berulang dalam jangka panjang dapat mengiritasi saluran napas.

"Kalau dia sudah dipakai lama, nanti berkarat, kemudian komponennya bisa lepas dan terhirup. Itu bisa menimbulkan berbagai keluhan penyakit paru," tambah Agus.

Akibat iritasi tersebut, seseorang dapat mengalami sakit tenggorokan, batuk kronis, hingga dahak yang terus-menerus muncul. Bila paparan berlangsung lama, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko bronkitis kronis dan asma akibat saluran napas menjadi lebih sensitif.

Tak hanya itu, debu dari atap seng berkarat juga bisa mengandung logam lain, seperti besi (Fe), terutama pada bagian paku atau sambungan logam. Jika terhirup selama bertahun-tahun, paparan tersebut berpotensi menyebabkan siderosis, yaitu fibrosis paru akibat penumpukan partikel besi.

Apakah Atap Asbes Bisa Menyebabkan Kanker?

Agus menegaskan bahwa risiko kesehatan dari atap seng tidak dapat disamakan dengan atap asbes. Bukti ilmiah mengenai bahaya asbes sudah jauh lebih kuat.

International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan asbes sebagai zat karsinogenik yang dapat menyebabkan asbestosis, kanker paru, hingga mesotelioma atau kanker selaput paru.

Hal senada disampaikan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama. Menurutnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengelompokkan asbes sebagai serat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker.

"Asbestos dikelompokkan oleh WHO sebagai serat karsinogenik, yang dapat menyebabkan kanker. Asbes ini adalah faktor penyebab utama dari kanker yang disebut mesothelioma," kata Tjandra saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com pada Sabtu (1/8/2026)

Dia, menjelaskan, mesothelioma merupakan kanker yang menyerang mesothelium, yaitu lapisan tipis yang melapisi berbagai organ dalam tubuh. Meski dapat muncul pada beberapa organ, kasus paling sering terjadi pada pleura atau selaput paru.

Selain mesothelioma, paparan asbes dalam waktu lama juga diketahui meningkatkan risiko kanker paru-paru. Bahkan, di dunia kedokteran dikenal istilah asbestos-related lung cancer (ARLC) atau kanker paru yang berkaitan dengan paparan asbes.

Meski demikian, Tjandra mengingatkan bahwa merokok tetap menjadi penyebab utama kanker paru-paru, sehingga menghindari rokok merupakan langkah pencegahan paling penting.

"Paparan asbes bertahun-tahun memang dilaporkan meningkatkan risiko kanker paru. Namun, faktor penyebab utama kanker paru tetap kebiasaan merokok, dan ini jelas harus dihindari dengan tidak merokok," ujarnya.

Tjandra juga mengutip publikasi ilmiah berjudul Asbestos-Related Lung Cancer: An Underappreciated Oncological Issue yang diterbitkan di jurnal internasional Lung Cancer pada 2024.

Penelitian tersebut mengemukakan hipotesis bahwa sebagian kasus kanker paru pada orang yang tidak merokok kemungkinan berkaitan dengan paparan asbes, baik yang terjadi saat ini maupun di masa lalu.

Risiko tersebut diduga semakin meningkat apabila paparan asbes terjadi bersamaan dengan polusi udara lain, seperti PM2.5 dan silika.