Alami Nyeri Dada? Dokter Jantung: Jangan Kerokan

Sensasi nyaman usai kerokan hanya sementara atau sugesti semata.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 10 Juni 2026, 08:00 WIB
Hindari mengatasi nyeri dada dengan kerokan, karena bisa saja tanda dari angina pektoris. (Freepik/lovelyday12).

Liputan6.com, Jakarta - Kerokan kerap jadi hal yang dilakukan masyarakat Indonesia saat merasa kurang sehat. Namun, pengobatan tradisional ini tidak disarankan menjadi pertolongan pertama mengatasi nyeri dada.

“Jangan, karena pada saat kita kerok sebenarnya pembuluh darah yang di permukaan kulit itu pecah, jadi merah itu adalah pembuluh darah. Ada macam-macam pembuluh darah ada yang di dalam,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Febtusia Puspitasari.

Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) itu menyampaikan metode kerokan yang biasanya dibaluri dengan balsem akan membuat suatu penekanan pada otot.

Mengenai rasa nyaman saat kerokan, Febtusia mengatakan itu merupakan efek sementara dari penggunaan balsem. Rasa nyaman setelah kerokan juga dapat dipengaruhi karena dipicu sugesti.

Febtusia mengatakan kerokan yang dibaluri dengan balsem dapat melebarkan pembuluh darah, tetapi hanya berlangsung sementara. Kondisi itu tidak mengatasi penyebab keluhan termasuk jika terdapat sumbatan pada pembuluh darah.

“Kalau balsam itu kan hangat. Pada saat tubuh itu udah hangat, maka pembuluh darah itu akan melebar efeknya, tapi secara instan dan tidak panjang efek itu. Sedangkan obat-obatan misalnya pengencer darah itu efeknya long term. Jadi kalau balsam dia hanya short expect saja,” tuturnya mengutip Antara.

 

Bila Hadapi Teman atau Keluarga Nyeri Dada

Ketika orang terdekat mengalami nyeri dada atau sesak napas, ia menyarankan untuk membantu menenangkan orang tersebut.

“Kalau orang itu cemas, gerasak gerusuk malah akan memperberat. Yang pasti adalah membuat orang itu tenang, misalnya dia pakai dasi kita longgarkan. Pokoknya membuat dia nyaman dulu,” sarannya.

Kemudian, pemberian oksigen jika tersedia juga dapat dilakukan sebagai bantuan awal karena dapat membantu memperbaiki kondisi melebarkan pembuluh darah. Lalu, segera dibawa fasilitas kesehatan terdekat untuk monitoring.

Febtusia menyampaikan tanda nyeri dada yang perlu segera dilakukan pemeriksaan medis lantaran berisiko picu penyakit kardiovaskular, seperti angin duduk. 

“Kalau nyeri dada yang dengan ada perubahan posisi itu biasanya bukan dari jantung. Tapi kalau misalnya dia enggak bisa pointing (mengarah) 'kok makin lama makin intensitasnya makin sering ya', disertai dengan keluhan yang lain (sesak napas, mual, keringat dingin), itu harus kita waspadai,” tuturnya. 

Kondisi yang dalam kondisi medis disebut Angina pektoris adalah ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup, ditandai dengan salah satu gejala utamanya berupa nyeri dada.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya