Sakit Perut Bukan Gejala Tipikal GERD pada Anak

GERD pada anak memiliki sejumlah gejala khas yang perlu diwaspadai dan segera ditangani.

Diterbitkan 24 Juni 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dokter Sri Kesuma Astuti, SpA, Subsp.G.H(K) mengatakan sakit perut pada anak bukanlah gejala tipikal gastroesofageal reflux disease atau GERD. Sakit perut merupakan keluhan yang sangat umum dan penyebabnya bisa sangat beragam.

“Penyebab sakit perut pada anak itu luas sekali. Bisa karena struktur usus bahkan karena enggak ada apa-apa,” ujar Sri dalam media briefing bersama IDAI pada Selasa (23/6/2026).

Maka dari itu apabila anak hanya mengeluhkan sakit perut, orangtua tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah GERD. Diperlukan penelusuran lebih lanjut oleh dokter untuk mengetahui sumber keluhan tersebut.

Meski demikian, orangtua perlu waspada apabila keluhan sakit perut disertai gejala lain atau membuat anak menjadi semakin rewel, sulit makan, dan aktivitasnya terganggu. Kondisi tersebut sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Dokter biasanya akan menggali riwayat keluhan secara rinci, melakukan pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan menambahkan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis.

Jika anak mengeluhkan nyeri perut lalu disertai nyeri dada dengan sensasi terbakar hal itu bisa dicurigai mengarah ke GERD. 

“Kalau nyeri dada disertai sensasi terbakar, bertambah setelah makan, atau semakin terasa saat berbaring, maka perlu dipikirkan kemungkinan GERD sebagai penyebabnya,” ujar Sri dalam media briefing secara daring pada Selasa (23/6/2026).

 

 

Apa Itu GERD?

GERD terjadi karena klep atau pintu masuk antara kerongkongan dan lambung itu melemah. Kondisi ketika asam lambung dan isi lambung naik kembali ke kerongkongan sehingga menimbulkan gejala yang mengganggu. Salah satunya sensasi panas di dada.

Sri mengatakan GERD pada anak sebenarnya jarang ditemukan dibanding pada orang dewasa. Pada anak usia di bawah 10 tahun kasusnya lebih jarang dibandingkan 10 tahun ke atas. Angka kejadian GERD cenderung meningkat pada anak yang lebih besar, pada anak di atas 10 tahun sekitar 5 persen alami GERD. 

Terdapat beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko GERD. Di antaranya adalah gangguan neurologis seperti cerebral palsy, kelainan anatomi seperti hiatal hernia, serta obesitas.

"Anak sehat dalam artian tanpa penyakit dasar, bisa juga alami GERD. Misalnya pada anak remaja yang sering makan berlebihan, sering makan yang berlemak-lemak, minum soda," tuturnya.