Banyak Perempuan Datang Berobat Sudah Parah, Obgin Ingatkan Deteksi Dini

Pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan reproduksi perempuan. Bila ditemukan masalah bisa ditangani sedini mungkin.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 14 Juni 2026, 18:00 WIB
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis ginekologi onkologi yang juga pakar bedah laparoskopi, Firman Santoso dari Jakarta Gynecology Center (JGC), Brawijaya Hospital Antasari mengungkapkan banyak perempuan baru berobat ketika ada keluhan.

Liputan6.com, Jakarta - Banyak perempuan baru memeriksakan diri ke dokter ketika nyeri atau keluhan yang dialami sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Padahal, berbagai penyakit ginekologi memiliki peluang penanganan yang lebih baik apabila terdeteksi sejak dini seperti disampaikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis ginekologi onkologi, Firman Santoso.

Menurutnya, keterlambatan pemeriksaan membuat penanganan menjadi lebih kompleks. Pada sejumlah kasus, dokter menemukan jaringan atau tumor sudah mengalami perlengketan dengan organ-organ di sekitarnya sehingga membutuhkan tindakan yang lebih rumit.

"Di Indonesia hampir setiap kasus itu lengket. Kenapa? Mereka menunggu sampai mereka tidak sanggup, ketika sakit sekali, baru mereka datang. Jadi, umumnya datang ke kita itu tumornya sudah lengket," papar dokter yang merupakan bagian dari Jakarta Gynecology Center (JGC), Brawijaya Hospital Antasari ini pada Kamis, (11/6/2026).

Kondisi ini berbeda dengan di Jerman. Dari pengalamannya saat mengambil subspesialis ginekologi onkologi di Landesaerztekammer Baden-Württemberg, kasus perlengketan yang ditemukan paling sekitar 2-3 per tahun.

Untuk menangani kasus-kasus yang kompleks, dibutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu medic dan teknologi medis yang advance. Melalui layanan yang terintegrasi dalam satu pusat layanan seperti JGC, maka pasien dapat memperoleh penanganan yang lebih menyeluruh tanpa harus berpindah-pindah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan konsultasi dari berbagai spesialis.

Firman memberi contoh kasus kanker ovarium yang sudah menyebar atau metastasis ke usus. Maka dalam penanganan perlu kerja sama dengan dokter spesialis bedah digestif. Lalu, membutuhkan juga diagnostik dengan kehadiran radiolog untuk membaca hasil MRI dan CT Scan. Kehadiran tim diagnostik amat penting karena berhubungan dengan terapi pada pasien.

"Jadi kita bisa memberikan terapi terbaik untuk pasien sesuai dengan evidence based study, yang sesuai guidelines internasional. Tujuannya, supaya pasien bukan cuma sembuh tapi memiliki kualitas hidup lebih baik dan terus kita follow up ke depannya," tutur pakar bedah laparoskopi ini.

Deteksi Dini Kasus Kanker Ginekologi

Firman menuturkan, penyakit ginekologi yang ditanganinya beragam, mulai dari kista ovarium, miom, adenomiosis, hingga kanker serviks, kanker rahim, dan kanker ovarium.

Ia mendorong perempuan aktif melakukan pentingnya pemeriksaan rutin karena tidak semua gangguan ginekologi menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.

Bila kanker terdeteksi sedini mungkin maka peluang kesembuhan bakal jauh lebih tinggi daripada saat sudah stadium akhir. "Dengan kita bisa tahu seawal mungkin, jadi kita masih punya kesempatan untuk memberikan terapi ke pasien," paparnya.

Dalam kesempatan itu, Brawijaya Hospital juga mengungkapkan memiliki layanan center of excellence selain Jakarta Gynecology Center. Yakni BraveHeart Center, Orthopedic Center, dan Benih In Vitro Fertilization (IVF). 

Empat center of excellence itu untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan spesialistik yang semakin kompleks seperti disampaikan Chief Commercial Officer (CCO) Brawijaya Hospital, drg. Hestiningsih.

“Brawijaya Hospital memiliki dokter dengan kapasitas dan kapabilitas yang sama, bahkan lebih baik, dan juga teknologinya pun kita tidak kalah (dari fasilitas medis luar negeri)," ujar Hesti.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya